JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Harapan tak pernah benar-benar terkunci. Dari balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sumenep, puluhan warga binaan perempuan hari ini membuktikan bahwa masa depan masih bisa diracik bahkan dari sambal petis khas Madura, Rabu (28/01/2026)
Pantauan media suasana Rutan Sumenep berubah menjadi dapur kreatif. Warga binaan perempuan mengikuti pelatihan pembuatan sambal petis khas Sumenep, sebuah produk kuliner lokal bernilai ekonomi tinggi, yang difasilitasi oleh Organisasi Aisyiyah Cabang Sumenep.
Program ini menjadi simbol nyata pembinaan berbasis pemberdayaan dan kemandirian. Pelatihan digelar secara intensif, mulai dari pengenalan bahan baku, teknik pengolahan higienis, hingga rahasia meracik cita rasa autentik sambal petis yang memiliki daya jual.
Antusiasme peserta tampak nyata mereka mencatat, mencoba, dan berdiskusi aktif, seolah tengah menyiapkan rencana hidup baru.
Kepala Rutan (Karutan) Sumenep, Aditya, menegaskan bahwa pembinaan keterampilan menjadi fondasi penting dalam proses pemasyarakatan modern.
“Kami tidak ingin warga binaan hanya menjalani hukuman, tetapi juga mendapatkan bekal nyata untuk hidup mandiri setelah bebas. Keterampilan seperti ini adalah jembatan menuju masa depan yang lebih bermartabat,” kata Aditya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/01/2028).
Menurutnya, pelatihan kuliner lokal dipilih karena dekat dengan identitas daerah dan memiliki peluang pasar yang luas, sehingga mudah dikembangkan sebagai usaha rumahan.
“Sambal petis adalah kekayaan kuliner Sumenep. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi sumber penghidupan. Harapan kami, saat mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak memulai dari nol,” tambahnya.
Kolaborasi antara Rutan Sumenep dan Aisyiyah Cabang Sumenep ini dinilai sebagai contoh sinergi ideal antara negara dan masyarakat sipil dalam membangun sistem pemasyarakatan yang humanis, produktif, dan inklusif. (REDJAVA/$$$)












