JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Denting kentongan berpadu tabuhan drum khas Madura menggema di jantung Kota Sumenep, Jumat (9/8/2025) malam. Ribuan pasang mata tertuju ke panggung Lapangan Kesenian Sumenep (LKS), tempat dimulainya Madura Open Festival Cipta Lagu Musik Tong-tong 2025. Bukan sekadar kompetisi, ajang ini menjadi pesta budaya yang memadukan kreativitas, kebanggaan, dan pelestarian warisan seni khas Pulau Garam.
Sembilan grup musik tong-tong terbaik dari Sumenep dan Pamekasan tampil memamerkan karya orisinal, memadukan nada ritmis dengan kisah-kisah yang berakar pada sejarah, budaya, dan keindahan alam Madura. Di tengah hiruk pikuk acara, pengunjung disuguhi aroma kuliner khas dari deretan stand UMKM yang berjejer di sisi barat arena, membuat suasana bak festival rakyat yang sesungguhnya.
Acara bergengsi ini digagas Forum Komunikasi Putera-Puteri Purnawirawan dan Putera-Puteri TNI/Polri (FKPPI) Cabang 1327 Sumenep, berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Sumenep. Selain lomba, malam itu juga diwarnai aksi sosial berupa santunan kepada anak yatim pesan tegas bahwa seni dan kepedulian dapat berjalan beriringan.
Bupati Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi, SH, MH, melalui Kepala Bappeda Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU, secara resmi membuka festival pada pukul 20.10 WIB. Dalam sambutannya, Arif mengapresiasi para peserta, dewan juri, panitia, dan seluruh penonton yang telah memeriahkan acara.
“Musik tong-tong adalah warisan kesenian Madura yang harus terus kita jaga. Lewat festival ini, kami memberi ruang kepada seniman untuk menggali potensi dan kreativitas generasi muda,” ujar Arif dalam sambutannya.
Hadir pula dalam kesempatan ini Kabid Pariwisata Disbudporapar Sumenep Andrie Zulkarnain, Kabag Ops Polres Sumenep AKP Junaidi yang mewakili Kapolres, serta Danramil Kota Kapten CZI Acep Kusnadi yang mewakili Dandim 0827/Sumenep. Kehadiran para pejabat lintas instansi ini menegaskan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian budaya lokal.
Festival tahun ini mengusung tiga tema besar: Budaya Madura, Sejarah Madura, dan Objek Wisata Madura. Setiap peserta wajib mengemas lagu yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga menyimpan narasi budaya yang kuat.
Deretan kategori yang diperebutkan meliputi 5 Penyaji Terbaik, 3 Lagu Terbaik, 3 Arranger Terbaik, Juara Favorit (Pooling on the Spot), dan Juara Umum. Para pemenang akan mendapat kehormatan tampil di Madura Culture Festival (MCF) 2025 pada 28–30 Agustus mendatang, panggung yang digadang-gadang menjadi etalase seni Madura ke tingkat nasional.
Sembilan grup musik tong-tong yang bersaing malam itu, beserta lagu ciptaannya, adalah:
- Pornama Alam – Labeng Mesem
- Spensa Musik Percussi – Keraton Soengennep
- Joko Maru – Rek Lancor
- Lanceng Spectra – Kapencot Taman Sare
- Mega Remmeng – Kasur Pasir
- Putra Djenengan – Ojhung
- Pangeran Girpapas – Keraton Soengennep
- Raden Ageng – Eladak Rantai
- Putra Lanyala – Tugu Keris
Setiap grup membawa identitas tersendiri: ada yang mengetuk emosi lewat alunan melodi lembut, ada pula yang membakar semangat dengan ritme cepat yang memaksa kaki ikut menghentak. Semua berpadu menciptakan malam yang membuktikan, musik tong-tong bukan hanya hiburan jalanan, melainkan karya seni yang layak mendunia.
“Ini bukan hanya panggung lomba. Ini panggung identitas budaya Madura,” tegas Arif Firmanto menutup sambutannya.
Dan benar saja, malam itu LKS bukan sekadar arena pertunjukan, ia menjelma menjadi ruang perayaan, tempat musik, kuliner, dan persaudaraan menyatu. Sumenep bergetar, Madura berbangga. (REDJAVA****)










