JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Setelah sempat mengalami fenomena kemarau basah, wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur kini resmi memasuki fase puncak musim kemarau.
Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga Agustus mendatang, dengan tingkat curah hujan yang sangat minim.
Kepala Stasiun Meteorologi Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, mengungkapkan bahwa fase ini merupakan bagian dari siklus tahunan yang lazim terjadi pada bulan Juli dan Agustus.
Namun, musim kemarau tahun ini sempat diawali dengan kehadiran anomali cuaca berupa potensi hujan yang masih tinggi.
“Secara normal, Juli dan Agustus adalah periode musim kemarau. Hanya saja sebelumnya ada banyak potensi hujan, karena faktor suhu muka laut yang masih hangat,” ujar Ari saat dikonfirmasi pada Kamis (31/7/2025).
Meski suhu laut masih menunjukkan anomali hangat, lanjut Ari, sejumlah indikator atmosfer lainnya kini sudah mulai tidak mendukung pembentukan awan hujan.
“Seperti yang kami prediksi sebelumnya, hujan saat ini sudah sangat jarang. Kita benar-benar memasuki puncak kemarau,” imbuhnya.
Di tengah kondisi kering ini, masyarakat Sumenep diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran lahan, yang kerap terjadi saat vegetasi mengering dan angin bertiup kencang.
“Selain itu, penting pula untuk memastikan ketersediaan air bersih, khususnya di wilayah-wilayah yang rawan kekeringan,” sambungnya.
Ari juga menyoroti dampak lain dari musim kemarau, yakni potensi gelombang tinggi di perairan sekitar akibat dominasi angin timuran yang bertiup secara konsisten.
Menurutnya, kondisi laut harus mendapat perhatian khusus dari para nelayan dan otoritas terkait untuk mencegah kecelakaan pelayaran.
“Kami akan terus memantau dinamika cuaca dan memberikan informasi terbaru secara berkala kepada masyarakat. Koordinasi lintas sektor, khususnya dengan BPBD dan Dinas Kelautan, sangat penting untuk memastikan kesiapsiagaan,” tutup Ari.
Dengan puncak musim kemarau yang masih akan berlangsung beberapa pekan ke depan, masyarakat diminta untuk tidak lengah terhadap berbagai potensi dampak, baik di darat maupun di laut. (REDJAVA****)












