JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah sorotan tajam terhadap arah dan nasib organisasi kepemudaan terbesar di Kabupaten Sumenep, yakni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), muncul suara yang menyeruak dari arus bawah: suara kekecewaan, keresahan, sekaligus harapan.
Sorotan itu tidak datang tanpa alasan. Sampai memasuki bulan Juli 2025, Musyawarah Daerah (MUSDA) KNPI yang sedianya dijadwalkan pada Mei lalu, belum juga dilaksanakan.
Padahal, jadwal tersebut merupakan hasil kesepakatan sah dalam forum tertinggi organisasi, Rapat Pimpinan Paripurna Daerah (RAPIMPURDA), yang digelar di Kota Batu pada 24–25 Juli 2024 lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Alih-alih menindaklanjuti amanah organisasi, Ketua KNPI Sumenep justru dinilai tidak menunjukkan tanda-tanda keseriusan untuk menggerakkan roda organisasi.
Panitia pelaksana MUSDA tak kunjung dibentuk. Agenda organisasi menjadi stagnan. Suara-suara dari kalangan Organisasi Kepemudaan (OKP) pun mulai menyuarakan kegelisahan.
“Asal tahu saja, RAPIMPURDA itu bukan sekadar rapat biasa. Itu forum tertinggi dalam struktur organisasi KNPI di tingkat kabupaten. Kalau hasilnya tidak dijalankan, untuk apa jauh-jauh ke Batu dan menghabiskan biaya organisasi?” tegas Asmuni, salah satu tokoh muda Sumenep yang sejak awal mengawal jalannya dinamika KNPI.
Di tengah kemacetan ini, secercah harapan tumbuh dari sudut warung kopi sederhana.
Di Warung Kopi Imam, tepat di depan Kantor Dispusip Sumenep, Ahmad Rohmat Hidayatullah mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pamekasan menyampaikan pandangannya dengan nada tegas namun tenang.
Di hadapan beberapa awak media yang hadir saat itu, ia menyatakan kesiapannya untuk ikut bertanggung jawab atas masa depan KNPI Sumenep.
“Saya melihat KNPI saat ini mengalami stagnasi. Maka diperlukan energi baru untuk menggerakkan kembali organisasi ini sebagai rumah besar pemuda,” ujarnya sambil menyeruput kopi panas yang mengepul di gelas kaca, Senin (07/07/2025).
“Bila memang dikehendaki, saya siap memimpin dan membuka ruang dialog dengan semua OKP.” sambungnya.
Rohmat bukan sekadar sosok yang muncul karena situasi. Ia dikenal sebagai figur yang konsisten mengawal isu-isu kepemudaan, menjembatani komunikasi lintas organisasi, serta menggerakkan kegiatan-kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan pemuda akar rumput. Dalam pandangannya, KNPI harus kembali menjadi rumah bersama, bukan milik satu kelompok atau sekadar formalitas seremoni.
“KNPI harus hidup, harus hadir dalam denyut kehidupan pemuda. Jangan hanya eksis saat seremoni dan hilang saat pemuda butuh tempat bersandar dan berkembang,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Ketua KNPI Sumenep atas berbagai kritik dan desakan tersebut.
Namun satu hal yang pasti, dinamika yang terjadi saat ini menjadi bukti bahwa pemuda Sumenep tidak tinggal diam. Mereka peduli. Mereka bersuara. Dan mereka siap mengambil alih tongkat estafet jika kepemimpinan yang ada tak lagi berpihak pada amanah dan semangat perubahan.
Sejarah menunjukkan, perubahan besar selalu lahir dari keberanian mengambil tanggung jawab.
Dan kini, ketika KNPI Sumenep berada di persimpangan jalan, hadirnya sosok seperti Ahmad Rohmat Hidayatullah bisa jadi menjadi titik balik kebangkitan. Sebab, kepemudaan bukan sekadar jabatan ia adalah pengabdian.
“Pemuda tidak butuh pemimpin yang sekadar hadir di baliho dan berita seremonial. Mereka butuh pemimpin yang hadir dalam denyut kehidupan mereka sehari-hari.” pungkasnya. (REDJAVA****)








