JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Madura dalam beberapa hari terakhir, bukan tanpa sebab. Fenomena ini ternyata dipicu oleh pusat tekanan rendah yang terbentuk di wilayah selatan khatulistiwa, tepat di antara Samudra Hindia dan perairan selatan Indonesia.
Kondisi atmosfer tersebut memicu pertumbuhan awan hujan secara masif dari Sumatra hingga Nusa Tenggara, bahkan menjangkau wilayah Papua. Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, menjelaskan bahwa tekanan rendah ini bukan fenomena ekstrem seperti siklon tropis, melainkan pola cuaca alami yang kerap muncul di masa peralihan musim.
“Hujan deras yang terjadi beberapa hari terakhir ini bukan karena fenomena luar biasa, melainkan karena terbentuknya pusat tekanan rendah di selatan khatulistiwa. Pusat tekanan rendah itu menarik massa udara dari wilayah sekitarnya. Akibatnya, udara naik ke lapisan atmosfer dan membentuk awan-awan konvektif yang memicu hujan dengan intensitas tinggi.” kata Kepala BMKG Ari Widjajanto kepada media ini, Minggu (02/11/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan analisis data BMKG, sejak 31 Oktober hingga 3 November 2025, wilayah Madura, khususnya Kabupaten Sumenep, masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Namun Ari menegaskan, intensitas hujan di Madura bersifat lokal dan tidak merata, tergantung pada kondisi atmosfer dan faktor geografis setempat.
“Untuk wilayah Sumenep, faktor lokal sangat berperan besar. Ada daerah yang bisa diguyur hujan deras, tapi di tempat lain justru masih cerah. Fenomena ini bisa dipengaruhi oleh suhu permukaan laut, kelembapan udara, dan arah angin di skala mikro yang berbeda di setiap kawasan, termasuk kepulauan Sumenep.” ujarnya.
Menurut BMKG, saat ini Indonesia masih berada dalam periode angin timuran, yang menandai masa peralihan dari kemarau menuju musim hujan. Posisi matahari yang sedang bergeser ke arah selatan turut meningkatkan intensitas penguapan di sebagian besar wilayah tanah air.
“Perlu diingat, saat ini kita belum masuk puncak musim hujan. Angin timuran masih bertiup dominan, dan posisi matahari sedang bergeser ke selatan. Ketika matahari berada tepat di atas wilayah selatan Indonesia, penguapan mencapai titik maksimum. Itulah mengapa potensi awan hujan meningkat di wilayah-wilayah selatan khatulistiwa, termasuk Madura.” ungkapnya.
Ari menambahkan, posisi matahari yang bergerak menuju 22 derajat lintang selatan pada bulan Desember menjadi fase penting transisi iklim. Dari kondisi inilah Indonesia bersiap memasuki periode puncak musim hujan, yang diprediksi terjadi antara Desember 2025 hingga Februari 2026.
“Bulan Oktober dan November ini adalah masa peralihan yang dinamis. Hujan bisa datang tiba-tiba dan sangat lokal. Namun secara umum, puncak musim hujan di Indonesia, termasuk Sumenep, akan terjadi pada Desember hingga Februari mendatang. Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang.” pungkas Ari sapaan akrabnya.
Dengan kondisi cuaca yang semakin aktif, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap memperhatikan informasi peringatan dini cuaca ekstrem yang rutin diperbarui. Sementara sektor pertanian, perikanan, dan pelayaran di wilayah kepulauan Sumenep diharapkan menyesuaikan aktivitasnya agar tetap aman dan produktif di tengah perubahan pola cuaca tersebut. (REDJAVA****)








