Pusat Tekanan Rendah di Selatan Khatulistiwa Picu Hujan Lebat, BMKG Sumenep: Belum Puncak Musim Hujan

- Redaksi

Minggu, 2 November 2025 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, Saat Menghadiri Peringatan Upacara Hari Jadi Kabupaten Sumenep di Halaman Kantor Pemkab Sumenep

Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, Saat Menghadiri Peringatan Upacara Hari Jadi Kabupaten Sumenep di Halaman Kantor Pemkab Sumenep

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Madura dalam beberapa hari terakhir, bukan tanpa sebab. Fenomena ini ternyata dipicu oleh pusat tekanan rendah yang terbentuk di wilayah selatan khatulistiwa, tepat di antara Samudra Hindia dan perairan selatan Indonesia.

Kondisi atmosfer tersebut memicu pertumbuhan awan hujan secara masif dari Sumatra hingga Nusa Tenggara, bahkan menjangkau wilayah Papua. Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, menjelaskan bahwa tekanan rendah ini bukan fenomena ekstrem seperti siklon tropis, melainkan pola cuaca alami yang kerap muncul di masa peralihan musim.

“Hujan deras yang terjadi beberapa hari terakhir ini bukan karena fenomena luar biasa, melainkan karena terbentuknya pusat tekanan rendah di selatan khatulistiwa. Pusat tekanan rendah itu menarik massa udara dari wilayah sekitarnya. Akibatnya, udara naik ke lapisan atmosfer dan membentuk awan-awan konvektif yang memicu hujan dengan intensitas tinggi.” kata Kepala BMKG Ari Widjajanto kepada media ini, Minggu (02/11/2025)

Berdasarkan analisis data BMKG, sejak 31 Oktober hingga 3 November 2025, wilayah Madura, khususnya Kabupaten Sumenep, masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Namun Ari menegaskan, intensitas hujan di Madura bersifat lokal dan tidak merata, tergantung pada kondisi atmosfer dan faktor geografis setempat.

“Untuk wilayah Sumenep, faktor lokal sangat berperan besar. Ada daerah yang bisa diguyur hujan deras, tapi di tempat lain justru masih cerah. Fenomena ini bisa dipengaruhi oleh suhu permukaan laut, kelembapan udara, dan arah angin di skala mikro yang berbeda di setiap kawasan, termasuk kepulauan Sumenep.” ujarnya.

Menurut BMKG, saat ini Indonesia masih berada dalam periode angin timuran, yang menandai masa peralihan dari kemarau menuju musim hujan. Posisi matahari yang sedang bergeser ke arah selatan turut meningkatkan intensitas penguapan di sebagian besar wilayah tanah air.

Baca Juga :  Datang dengan Semangat Baru, Kajari Sumenep Nislianudin Tekankan Hukum Berkeadilan

“Perlu diingat, saat ini kita belum masuk puncak musim hujan. Angin timuran masih bertiup dominan, dan posisi matahari sedang bergeser ke selatan. Ketika matahari berada tepat di atas wilayah selatan Indonesia, penguapan mencapai titik maksimum. Itulah mengapa potensi awan hujan meningkat di wilayah-wilayah selatan khatulistiwa, termasuk Madura.” ungkapnya.

Ari menambahkan, posisi matahari yang bergerak menuju 22 derajat lintang selatan pada bulan Desember menjadi fase penting transisi iklim. Dari kondisi inilah Indonesia bersiap memasuki periode puncak musim hujan, yang diprediksi terjadi antara Desember 2025 hingga Februari 2026.

Baca Juga :  Kapolres Sumenep Tinjau Langsung Tanggul Jebol di Desa Patean, Diduga Ada Unsur Kesengajaan

“Bulan Oktober dan November ini adalah masa peralihan yang dinamis. Hujan bisa datang tiba-tiba dan sangat lokal. Namun secara umum, puncak musim hujan di Indonesia, termasuk Sumenep, akan terjadi pada Desember hingga Februari mendatang. Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang.” pungkas Ari sapaan akrabnya.

Dengan kondisi cuaca yang semakin aktif, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap memperhatikan informasi peringatan dini cuaca ekstrem yang rutin diperbarui. Sementara sektor pertanian, perikanan, dan pelayaran di wilayah kepulauan Sumenep diharapkan menyesuaikan aktivitasnya agar tetap aman dan produktif di tengah perubahan pola cuaca tersebut. (REDJAVA****)

Follow WhatsApp Channel javanetwork.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

BERITA TERKAIT

Kakanwil Ditjenpas Jatim Kusnali Sambangi Rutan Sumenep, Kejar Paket hingga Batik Catra Tuai Apresiasi
Disdik Sumenep Dorong Dongeng Jadi Senjata Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini
Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD
PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni
Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep
154 Warga Binaan Rutan Sumenep Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas
75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT ke-81 RI, Honor Cair dan Evaluasi Besar Disiapkan
Camat Pragaan Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Kobarkan Nasionalisme dan Perkuat Kebersamaan Warga

BERITA TERKAIT

Rabu, 16 September 2026 - 08:22 WIB

Kakanwil Ditjenpas Jatim Kusnali Sambangi Rutan Sumenep, Kejar Paket hingga Batik Catra Tuai Apresiasi

Minggu, 13 September 2026 - 23:59 WIB

Disdik Sumenep Dorong Dongeng Jadi Senjata Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep

BERITA TERBARU