JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Inisiatif kolektif datang dari para alumni daerah Lubangsa, Pondok Pesantren An-Nuqayah, yang menggagas sebuah forum kebersamaan bernama Majelis Salakan.
Wadah ini dirancang bukan hanya untuk alumni, tetapi juga merangkul santri aktif hingga simpatisan sebagai bagian dari gerakan kolaboratif lintas generasi.
Gagasan pembentukan Majelis Salakan muncul dari ruang-ruang diskusi para alumni yang menginginkan keberlanjutan kontribusi nyata bagi almamater dan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ide tersebut kemudian berkembang menjadi kesepakatan bersama untuk menghadirkan forum yang lebih inklusif, fleksibel, dan berorientasi pada kemanfaatan.
Tidak seperti organisasi formal pada umumnya, Majelis Salakan diposisikan sebagai ruang kultural yang cair. Forum ini mengedepankan nilai kebersamaan, partisipasi, dan semangat gotong royong khas pesantren.
“Majelis Salakan diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan gagasan, potensi, dan sumber daya, baik dari alumni, santri aktif, maupun simpatisan secara guyub dan penuh kekeluargaan,” demikian tertuang dalam pengantar pembentukannya.
Majelis ini juga diproyeksikan sebagai rumah bersama yang mampu merawat tradisi keilmuan dan nilai keislaman, sekaligus menjadi motor penggerak kontribusi di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, sosial, hingga pengembangan kapasitas individu.
Salah satu penggagas, Kiai Fathol Bari, menilai keterlibatan berbagai elemen menjadi kekuatan utama forum tersebut. Ia menyebut kolaborasi lintas generasi ini berpotensi melahirkan dampak luas, baik bagi pesantren maupun masyarakat.
“Dengan melibatkan alumni, santri aktif, dan simpatisan, Majelis Salakan memiliki potensi besar untuk menjadi wadah yang produktif dan berdampak luas,” ujar Kiai Fathol Bari, Sabtu (02/05/2026)
Ia menambahkan, nilai keikhlasan, kebersamaan, dan tradisi pesantren harus tetap dijaga sebagai fondasi utama dalam setiap gerakan majelis.
Secara garis besar, Majelis Salakan dibentuk dengan sejumlah tujuan, antara lain memperkuat partisipasi kolektif dalam pengembangan Lubangsa, menjaga kesinambungan nilai keislaman dan tradisi keilmuan, serta menghimpun potensi dari berbagai elemen untuk mendorong peningkatan kompetensi dan jejaring.
Sebagai langkah awal, peresmian Majelis Salakan dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 17 Mei 2026, di MAN Surabaya. Acara tersebut rencananya akan diresmikan langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqayah daerah Lubangsa.
Kehadiran Majelis Salakan diharapkan menjadi simpul strategis yang mampu mengonsolidasikan kekuatan alumni dan santri, sekaligus mendorong kemajuan Lubangsa secara berkelanjutan. (REDJAVA****)









