JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Suasana Balai Desa Bilangan, Kecamatan Batang-Batang, mendadak riuh pada Rabu (17/9/2025). Puluhan warga, mulai dari ibu-ibu PKK hingga tokoh masyarakat, tampak antusias mengikuti Workshop Jamu Empon-Empon yang digelar Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Annuqayah Posko 14.
Bukan sekadar penyuluhan biasa, kegiatan ini menjadi magnet tersendiri karena menghadirkan cara praktis memanfaatkan warisan herbal Nusantara untuk kesehatan sehari-hari.
Hadir sebagai narasumber utama, Nurul Hidayatullah, M.Si., dosen Program Studi Teknik Hasil Pertanian (THP) Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Annuqayah. Dengan lugas, ia mengupas tuntas khasiat tanaman empon-empon seperti jahe, kunyit, temulawak, dan sereh.
“Masyarakat kita punya warisan luar biasa dalam bentuk tanaman obat. Kegiatan ini penting untuk membangkitkan kembali kesadaran akan potensi alam sekitar yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan,” tegas Nurul di hadapan peserta.
Bukan hanya teori, warga langsung diajak praktik: mengupas, merebus, hingga meracik jamu. Tak sedikit yang kagum melihat betapa mudahnya membuat minuman sehat penuh khasiat itu.
Ketua Posko 14, Ifrohatul Qomariyah, mengungkapkan kegiatan ini bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga bisa membuka jalan baru bagi perekonomian desa.
“Kami berharap masyarakat tak sekadar mengonsumsi jamu, tapi juga mampu memproduksinya sendiri. Bahkan, jika digarap serius, bisa menjadi peluang usaha lokal,” ujar Ifrohatul.
Dukungan penuh datang dari Kepala Desa Bilangan, Sahruji, yang menilai program KKN ini benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warganya.
“Ini kegiatan yang nyata manfaatnya. Mahasiswa mampu hadir dengan program yang edukatif sekaligus aplikatif,” ungkap Sahruji memberi apresiasi.
Hal senada disampaikan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Posko 14, Dr. Zamzami Sabiq, M.Psi. Menurutnya, program ini adalah wujud nyata pengabdian kampus untuk masyarakat.
“Workshop ini bukan seremonial belaka, tapi bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran kesehatan berbasis kearifan lokal,” kata Dr. Zamzami kepada media, Kamis (18/09/2025)
Kegiatan ditutup dengan pembagian jamu hasil racikan. Warga pun pulang dengan senyum puas, membawa pengalaman baru sekaligus kesadaran bahwa kesehatan bisa dijaga dengan cara sederhana: memanfaatkan kekayaan alam sekitar. (REDJAVA****)












