JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Kabupaten Sumenep kembali menunjukkan kekayaan budayanya yang begitu memukau. Jika selama ini tradisi Nyadar lebih dikenal identik dengan wilayah Pinggirpapas, Karanganyar, Daddhak, dan Saroka, ternyata jauh di ujung timur Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, tepatnya di kawasan Gua Mandalia, adat sakral tersebut juga tumbuh dan lestari dalam balutan khidmat dan kesederhanaan.
Pelaksanaan Adat Nyadar di Gua Mandalia menjadi bukti bahwa tradisi spiritual masyarakat Sumenep hidup dalam berbagai versi lokal yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Di tempat ini, Nyadar digelar dua kali setiap tahun, selama dua hari berturut-turut, yaitu pada Jumat dan Sabtu, dan untuk tahun ini bertepatan pada tanggal 11–12 Juli 2025 atau 15–16 Muharram 1447 H.
Tak hanya Nyadar, kawasan religius Gua Mandalia juga rutin menggelar tradisi lainnya seperti Haul, Cahè, dan kegiatan keagamaan lain yang berakar kuat dalam tradisi pesantren dan spiritualitas masyarakat setempat.
“Kalau Nyadar di sini yang datang bukan hanya warga Gua Mandalia atau kampung sekitar, tapi juga dari Desa Daddhak Tèmor (area Accen Rajâh), sebagian Tanjung, dan Garbato,” ungkap K. Muhammad Hasan, selaku pemangku Gua Mandalia sekaligus pengasuh Pesantren Mandalia Al-Mukarromah di Kampung Koroko, Desa Langsar, Sabtu (12/07/2025).
Keunikan ini mengejutkan sejumlah tokoh yang hadir, termasuk K. Arya Rusli, tamu undangan yang mengaku baru mengetahui bahwa di Gua Mandalia juga berlangsung tradisi Nyadar.
“Saya baru tahu kalau ternyata di sini juga ada pelaksanaan Nyadar. Padahal saya sudah lebih 20 tahun tinggal dan kenal dekat dengan Kiyai Muhammad,” ucapnya sambil tersenyum penuh heran.
Prosesi Nyadar dimulai sejak Jumat siang, dibagi dalam lima kelompok pelaksana yang masing-masing memiliki waktu khusus hingga kelompok terakhir yang menutup ritual pada pukul 12.00 WIB di hari Sabtu. Setiap kelompok memulai dengan Tawassul, lalu pembacaan Surat Yasin, Tahlil, dan doa penutup.
Tokoh masyarakat seperti Bapak Tres atau Bapak Sukarto biasa memimpin doa tersebut. Pada pelaksanaan tahun ini, kehadiran Bapak Tres/Munapsu menambah kekhidmatan acara.
Setelah seluruh prosesi adat selesai, dilanjutkan dengan makan bersama yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini. Belasan keluarga hadir membawa makanan dari rumah masing-masing, lalu duduk beramai-ramai dalam satu ruang kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Di akhir acara, K. Muhammad Hasan mengundang seluruh kaum muslimin dan muslimat untuk hadir dalam Haul Agung Wali Tunjung yang akan digelar pada Selasa malam Rabu, 22 Juli 2025 (27 Suro 1959 H). Acara akan dipusatkan di Pesantren Mandalia Al-Mukarromah dan terbuka untuk umum.
Haul tersebut rencananya akan menghadirkan K. Khodri dari PP. Sabilul Muttaqin, Daramista Lenteng sebagai penceramah, serta Ustadz Sobriyanto, qori’ kenamaan dari Kelurahan Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep.
Tradisi Nyadar di Gua Mandalia bukan sekadar ritual warisan, tetapi menjadi pengingat akan kekayaan budaya Sumenep yang tersebar hingga ke pelosok desa. Di tengah derasnya arus modernitas, masyarakat Desa Langsar masih mampu menjaga jati diri spiritual dan budaya leluhur mereka dengan teguh dan penuh cinta. (REDJAVA****)











