JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah gempuran isu kerusakan ekosistem laut dan ancaman pelanggaran wilayah laut nasional, Lanal Batuporon mengambil langkah progresif dan monumental.
Sabtu pagi, 17 Mei 2025, Desa Tanjung Kecamatan Saronggi menjadi saksi sejarah ketika Komandan Lanal Batuporon, Letkol Laut (P) Novyian, S.H., M.Tr.
Opsla memimpin langsung pelaksanaan Sosialisasi Keamanan Laut, Alat Tangkap Ramah Lingkungan, dan Bhakti Sosial yang menggugah kesadaran kolektif nelayan Sumenep akan pentingnya laut sebagai masa depan bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bertempat di Pendopo Balai Desa Tanjung, acara tersebut tidak hanya menjadi forum edukatif, namun juga momen konsolidasi strategis antara aparat negara, dunia industri migas, dan masyarakat akar rumput.
“Kedaulatan laut adalah harga mati. Tapi tanpa partisipasi masyarakat pesisir, kami hanya berjalan sendiri. Maka hari ini kita bertemu, bersatu, dan bergerak bersama,” tegas Letkol Novyian dalam sambutannya.
Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini dihadiri sejumlah tokoh strategis. Di antaranya:
– Camat Saronggi, Arman Mustafa, S.Sos., M.H.,
– Danramil 0827/06 Saronggi, Kapten Inf. Mendung Melas H.S.
– Kapolsek Saronggi, Iptu Edy Hariyanto, S.H.,
– serta Perwakilan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), perusahaan migas yang beroperasi di perairan Madura, yakni Bambang Sugianto (Purn. TNI AL) dan tim humasnya, Feri Ardiansa dan Ali Yatin.

Kepala Desa Tanjung, Peni Kumalasari, S.E., dalam sambutannya mengatakan Desa Tanjung hari ini sangat istimewa.
“Laut bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga identitas kami. Kami bangga menjadi bagian dari gerakan nasional ini,” ujarnya.
Momentum utama dalam acara ini adalah pemutaran video edukatif dan pemaparan langsung oleh Bambang Sugianto.
Ia menjelaskan batas wilayah operasional migas, zona larangan (DPT), serta bahaya pelanggaran hukum di laut, seperti penyelundupan, penggunaan bom ikan, dan pencurian sumber daya laut.
“Wilayah laut kita bukan ruang bebas. Di sana ada obyek vital nasional yang harus dijaga. Sekali melanggar, konsekuensinya tidak hanya hukum, tapi bisa mengancam stabilitas negara,” tegas Bambang.
Selain materi hukum dan lingkungan, sosialisasi juga mengajarkan cara penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, sebagai bagian dari transformasi ekonomi biru (blue economy) yang kini didorong pemerintah.
Acara ditutup dengan penyerahan tali asih kepada para nelayan dan pernyataan komitmen bersama untuk menjaga laut Sumenep dari ancaman internal maupun eksternal.
Ustadz Abu Khoiri, Mudin Desa Tanjung yang memimpin doa pembuka, menyatakan dalam penutupnya,
“Laut adalah amanah Tuhan. Bila dijaga, ia akan memberi kehidupan. Bila dirusak, ia akan jadi bencana,’ tutupnya.
Kegiatan ini menjadi tonggak baru sinergi antara aparat negara, industri, dan masyarakat dalam menjaga laut sebagai sumber kekuatan dan kesejahteraan bangsa. (REDJAVA****)








