JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sosok KHR. Achmad Qusyairi Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul. Ulum Utara Desa Gadu Barat Kecamatan Ganding kembali menjadi sorotan publik.
Ulama kharismatik asal Kabupaten Sumenep, Madura, itu kembali menerima penghargaan dari Polres Sumenep atas dedikasinya membantu aparat kepolisian dalam mengungkap kasus tindak pidana narkotika di wilayah hukum Polres Sumenep.
Penghargaan yang diterimanya pada Senin (20/10/2025) itu menjadi yang ketiga kalinya bagi Kiai Qusyairi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelumnya, pada tahun 2020, ia mendapat penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Sumenep di masa kepemimpinan Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si. Empat tahun kemudian, BNN Provinsi Jawa Timur juga memberikan piagam penghargaan atas kiprah dan peran aktifnya dalam upaya pencegahan serta pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Namun bagi Kiai Qusyairi, penghargaan bukanlah tujuan utama.
“Bagi saya, penghargaan bukan kebanggaan, tapi amanah. Setiap apresiasi justru menjadi pengingat agar kami terus berbuat lebih banyak untuk anak-anak yang menjadi korban narkoba,” ujarnya kepada media ini usai menerima penghargaan di Mapolres Sumenep, Senin (20/10/2025)
Komitmen Kiai Qusyairi terhadap perjuangan melawan narkoba tak sebatas seruan moral. Pada tahun 2020, ia membuka program pesantren rehabilitasi narkoba di Pondok Pesantren Hidayul Ulum Utara.
Langkah itu ia tempuh karena prihatin melihat banyaknya anak-anak muda yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
Program ini menampung anak-anak di bawah umur yang terjerat kasus narkoba untuk direhabilitasi dengan pendekatan sosial dan religius.
Sejak berdiri, sebanyak 37 santri mantan pecandu telah dinyatakan sembuh dan kembali hidup normal. Sebagian di antaranya telah bersekolah kembali, dan sebagian lainnya bekerja di masyarakat.
“Kami memandang mereka bukan sebagai pelaku kejahatan, tapi sebagai korban yang harus diselamatkan. Anak-anak itu punya masa depan, mereka butuh kesempatan kedua, bukan hukuman,” tuturnya.
Yang menginspirasi, seluruh proses rehabilitasi di pesantrennya dilakukan tanpa biaya.
“Kami tidak memungut bayaran sepeserpun. Semua gratis. Ini bagian dari ibadah kami. Yang penting mereka mau berubah dan berjanji meninggalkan narkoba,” tegasnya.
Menurut Kiai Qusyairi, kondisi Indonesia saat ini sudah memasuki fase darurat narkoba.
Barang haram itu, katanya, tidak hanya merusak individu, tapi juga menghancurkan moral dan masa depan bangsa.
“Indonesia saat ini bisa dikatakan sudah darurat narkoba. Kalau kita tidak segera bertindak, yang hancur bukan cuma anak-anak kita, tapi masa depan bangsa,” tambahnya.
Karena itu, ia menilai perang melawan narkoba tak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum. Diperlukan sinergi seluruh elemen bangsa untuk memutus rantai peredaran narkoba.
“Memerangi narkoba bukan hanya tugas polisi atau BNN, tapi tanggung jawab kita bersama. Terutama para tokoh agama, karena mereka punya pengaruh besar di tengah masyarakat,” katanya.
Selain itu, ia juga menyerukan agar pemerintah bersikap tegas tanpa kompromi terhadap para pengedar dan bandar narkoba.
“Tidak boleh ada toleransi sedikitpun untuk pengedar dan bandar. Mereka bukan hanya merusak satu generasi, tapi juga menghancurkan sendi kehidupan bangsa,” ungkapnya.
Kiai Qusyairi berharap agar pemerintah terus memperkuat kerja sama dengan pesantren-pesantren yang telah berperan aktif dalam pembinaan moral generasi muda.
“Pesantren punya kekuatan spiritual dan sosial. Kami siap bersinergi dengan pemerintah dalam menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban narkoba. Ini jihad kemanusiaan, bukan sekadar kegiatan sosial,” pungkas Kiai Qusyairi.
Apa yang dilakukan KHR. Achmad Qusyairi Zaini menjadi bukti nyata bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga benteng penyelamat generasi muda dari kehancuran moral akibat narkoba.
Melalui tangan dan ketulusan para kiai, pesantren dapat menjadi rumah pemulihan, tempat harapan baru tumbuh bagi anak-anak yang sempat tersesat jalan.
Dari Madura, sosok Kiai Qusyairi menyalakan harapan bahwa melawan narkoba tidak selalu harus dengan senjata, tapi juga dengan kasih sayang, doa, dan keteladanan. (REDJAVA****)








