JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pagi Jumat, simpang tiga Mapolres Sumenep mendadak ramai bukan karena macet, tapi karena kehangatan.
Komunitas Kita Berbagi Sosial (KBS) kembali turun ke jalan dengan program andalannya: “Bungturat” nasi bungkus tujuan akhirat.
Sebanyak 85 bungkus nasi dibagikan cuma-cuma kepada masyarakat kecil, terutama abang becak dan warga yang sedang beraktivitas di sekitar lokasi.
Ketua KBS Sumenep, Ahmad Zahruddin, menyebut aksi ini bukan sekadar berbagi makanan, melainkan membangun ekosistem kebaikan di masyarakat.
“Kami menyebutnya bungturat, nasi bungkus tujuan akhirat. Karena kami percaya, setiap suapan yang mengenyangkan orang lain adalah investasi pahala yang tak akan rugi,” ujar Ahmad kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/10/2025).
Menurutnya, konsep sederhana ini lahir dari semangat keikhlasan dan rasa syukur atas nikmat hidup.
“Bungturat bukan program besar, tapi nilainya besar. Kami ingin menunjukkan bahwa kebaikan itu tak harus menunggu berlimpah harta,” ungkapnya.
Program ini rutin dilakukan setiap Jumat, dan menjadi momentum berbagi kebahagiaan.

“Jumat bagi kami bukan hanya hari penuh berkah, tapi juga hari untuk menebar manfaat. Kami ingin setiap pekan ada senyum baru yang lahir di jalan,” jelas Ahmad.
KBS yang kini aktif di berbagai kegiatan sosial ini berupaya menjaga ketertiban selama pembagian. Sejumlah anggota KBS terlihat mengatur lalu lintas sembari menyalurkan nasi bungkus dengan senyum dan sapaan hangat.
“Kami ingin penerima merasa dihargai. Karena berbagi bukan tentang memberi, tapi tentang menghormati,” katanya tegas.
Ahmad juga menyoroti pentingnya peran komunitas dalam menciptakan rantai kebaikan yang berkelanjutan.
“Kalau setiap kelompok kecil punya kepedulian, maka masyarakat kita akan kuat. Kami ingin jadi bagian dari perubahan kecil itu,” ujarnya.
Tak hanya memberi makan, KBS berharap bisa menumbuhkan budaya empati sosial di tengah masyarakat yang kian individualistis.
“Kami berharap Bungturat bisa menginspirasi orang lain. Sekecil apa pun, asal ikhlas, pasti berdampak. Selama kami diberi kesehatan dan rezeki, insyaallah kami tidak akan berhenti. Ini cara kami bersyukur, bukan karena punya lebih, tapi karena ingin berarti,” tutup Ahmad Zahruddin dengan senyum penuh keyakinan.
Dengan pendekatan sederhana namun berdaya ungkit tinggi, KBS Sumenep membuktikan bahwa kebaikan bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana sebungkus nasi yang dibungkus dengan cinta dan keikhlasan. (REDJAVA****)












