JAVANETWORK.CO.ID.ARTIKEL – Di ujung timur Pulau Madura, tepatnya di kawasan Dungkek, sejarah panjang budaya kerapan sapi pernah mencatat kisah yang hingga kini masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Kisah itu tentang dua pasangan sapi legendaris: Indrajit dan Roket simbol kejayaan, kecepatan, dan kehormatan di lintasan pacu.
Dituturkan oleh saksi hidup, Tadjul Arifien, legenda ini bermula pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an. Sosok sentral di balik kejayaan itu adalah seorang tokoh masyarakat keturunan Tionghoa, Tee Kam Bing. Ia dikenal luas sebagai pemilik dua pasang sapi kerapan terbaik pada masanya.
Indrajit dan Roket bukan sekadar sapi lomba. Mereka adalah juara sejati yang hampir tak tersentuh kekalahan. Dalam setiap gelaran kerapan tingkat kabupaten, keduanya selalu mendominasi podium, bergantian merebut posisi juara pertama dan kedua.
Secara fisik, keduanya tampil memukau:
– Indrajit: berbulu kuning keemasan, gagah dan elegan
– Roket: coklat kehitaman, kokoh dan berwibawa
Paha mereka mulus tanpa bekas luka rèkèngan, menunjukkan perawatan yang luar biasa. Metode pacuan pun unik—tanpa kekerasan. Hanya dengan pelepah daun kelapa yang dibelah menghasilkan bunyi khas “plak koplak koplak”, bahkan cukup dengan sentuhan ringan pada ekor, mereka melesat luar biasa.
Dalam lintasan sepanjang ±110 meter, kedua pasangan ini mampu menuntaskannya hanya dalam waktu sekitar 11–15 detik catatan yang mengagumkan pada zamannya.
Namun, kejayaan tak berlangsung selamanya. Sekitar tahun 1963, Tee Kam Bing wafat secara tragis akibat minuman oplosan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat.
Konon, bukan hanya manusia yang berduka. Indrajit dan Roket disebut ikut merasakan kehilangan. Mereka menguak sepanjang malam, bahkan dikisahkan meneteskan air mata sebuah gambaran betapa kuat ikatan antara manusia dan hewan dalam tradisi ini.
Setelah itu, jejak kedua pasangan sapi legendaris tersebut perlahan menghilang. Tak ada lagi kabar, tak ada lagi penampilan. Mereka seolah lenyap bersama berakhirnya satu era kejayaan.
Kisah Indrajit dan Roket bukan sekadar cerita lama. Ia adalah bagian dari identitas budaya Madura tentang dedikasi, kehormatan, dan hubungan emosional antara manusia dan alam.
Seperti ditutup oleh penuturnya:
“Penulis selaku saksi hidup.”
Sebuah penegasan bahwa legenda ini bukan dongeng, melainkan sejarah yang pernah benar-benar hidup. (REDJAVA****)
Penulis : Tadjul Arifin, Minggu (29/03/2026)











