JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah derasnya arus kehidupan yang kerap kali tak berpihak kepada mereka yang lemah, ada secercah harapan yang datang dari seragam cokelat yang selama ini dikenal sebagai penjaga hukum. Jumat (28/3/2025), di sudut kecil Pulau Kangean, tepatnya di Dusun Temor Lorong, Desa Angkatan, Kecamatan Arjasa, secarik kisah tentang kepedulian itu terukir.
Bukan dengan pentungan atau sirene, bukan pula dengan operasi penertiban. Kali ini, jajaran Polsek Kangean yang dipimpin langsung oleh Kapolsek IPTU Datun Subagyo, SH. hadir dengan tangan terbuka, membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kewajiban: kemanusiaan.
Dengan langkah mantap namun penuh ketulusan, IPTU Datun Subagyo, SH berjalan memasuki dusun, menyapa warga satu per satu. Matanya tajam, tetapi bukan untuk mengawasi, melainkan untuk memahami. Senyum yang tersungging di wajahnya bukan sekadar formalitas, melainkan ungkapan hati yang sungguh-sungguh peduli.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami datang bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat. Polisi bukan hanya tentang menangkap penjahat atau mengatur lalu lintas, tetapi juga tentang memastikan bahwa tak ada warga yang terpinggirkan, tak ada yang dibiarkan berjuang sendirian,” ujarnya, dengan suara yang tegas.
Baginya, menjadi Kapolsek di wilayah kepulauan bukan sekadar tugas administratif, tetapi sebuah tanggung jawab moral. Wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan ini kerap kali luput dari perhatian, dan ia merasa bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk menghadirkan negara di tengah-tengah rakyat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa polisi juga bisa menjadi sahabat rakyat. Bukan hanya hadir saat ada masalah, tetapi juga saat masyarakat butuh kehangatan dan kepedulian,” lanjutnya.
Sepuluh warga kurang mampu, yang selama ini mungkin hanya bisa menggantungkan harapan pada belas kasih tetangga, menerima paket sembako yang diberikan dengan penuh kehangatan. Beras, minyak goreng, mie instan, dan gula pasir, bukan sekadar bahan pangan, tetapi simbol bahwa mereka tak sendiri di tengah kerasnya hidup.
Tak ada sekat antara polisi dan rakyat hari itu. AIPTU Sulaeman, AIPDA R. Hendra K, SH, BRIPKA Hamsun Bisri S, SH, BRIGPOL Beta, Nur Insani, SH., MH, BRIPDA M. Alfin, dan BRIPDA Rendi, yang biasanya berbaris tegap dalam apel pagi, kini duduk bersila bersama warga, berbagi cerita, tawa, dan harapan.
Seorang ibu tua yang menerima bantuan tak mampu menahan haru. Matanya berkaca-kaca saat menerima bingkisan itu.
“Saya tidak pernah menyangka polisi akan datang membawa berkah seperti ini. Ini bukan sekadar bantuan, ini kepedulian yang kami butuhkan,” lirihnya, nyaris tak terdengar.
IPTU Datun Subagyo, SH yang menyaksikan langsung respons warga, hanya tersenyum. Baginya, ini bukan tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi bagaimana kehadiran polisi bisa dirasakan dengan cara yang berbeda.
“Kegiatan sosial ini bukan sekadar program seremonial, melainkan benang merah yang menghubungkan kepolisian dengan hati masyarakat. Di tengah berbagai stigma dan tantangan, aksi kecil ini menjadi bukti bahwa polisi tak sekadar hadir saat ada laporan, tetapi juga ketika rakyatnya butuh uluran tangan,” pungkas Mantan Kapolsek Sapeken.
Dunia boleh terus bergerak maju, hukum bisa terus diperbarui, tetapi satu hal yang tetap abadi: kemanusiaan. Dan di Pulau Kangean hari itu, kemanusiaan telah menemukan jalannya melalui tangan-tangan yang selama ini dikenal sebagai penegak aturan.
Ketika hukum disandingkan dengan kepedulian, di sanalah kepercayaan tumbuh, dan di sanalah harapan menemukan tempatnya. (REDJAVA****)








