JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Gelombang baru kesadaran sosial digulirkan Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumenep melalui Pokja 1. Dengan langkah strategis, mereka memilih pesantren sebagai pusat edukasi sekaligus benteng peradaban untuk melawan dua ancaman serius generasi muda: perkawinan usia anak dan penyalahgunaan narkoba.
Ketua Pokja 1 TP PKK Kabupaten Sumenep, Annisa Dwi Sofiah, S.P, menyampaikan bahwa pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan juga wadah pembentukan karakter remaja. Karena itu, sosialisasi di lingkungan pesantren diyakini menjadi kunci untuk membangun kesadaran kolektif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mayoritas santri adalah remaja, kelompok yang sangat rentan terhadap perkawinan usia anak. Dengan memberikan edukasi langsung di pesantren, maka pesan yang kami sampaikan bisa menjangkau jumlah sasaran yang lebih luas dan berdampak nyata,” ujarnya, Senin (01/09/2025).
Dalam kegiatan tersebut, Pokja 1 menyajikan edukasi menyeluruh mengenai dampak negatif perkawinan dini. Bukan hanya dari sisi kesehatan reproduksi yang berisiko, tetapi juga dari aspek psikologis hingga sosial yang dapat menghambat masa depan remaja.

Menariknya, gerakan ini tidak berjalan sendiri. Pengadilan Agama dan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Sumenep turut digandeng untuk memperkuat barisan. Para pengasuh pesantren dan santri mendapat wawasan langsung tentang bahaya narkotika yang kini kian mengintai kalangan muda.
“Kami ingin pesantren tidak hanya melahirkan generasi alim dan berakhlak, tetapi juga sehat, cerdas, serta terbebas dari ancaman narkoba. Karena itu, sinergi lintas lembaga sangat penting untuk memastikan anak-anak kita terlindungi,” jelas Annisa yang akrab disapa Bu Anis.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Pokja 1 TP PKK Sumenep tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Ada agenda monitoring dan evaluasi yang akan dilakukan untuk mengukur sejauh mana pesan-pesan edukasi tersebut benar-benar terserap oleh para santri dan pengasuh pesantren.
“Kami berharap langkah ini menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu menekan angka perkawinan usia anak sekaligus mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Karena masa depan mereka adalah masa depan Sumenep, bahkan masa depan Indonesia,” pungkasnya. (REDJAVA****)









