JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah era digital yang terus berkembang, kecintaan terhadap buku tetap menjadi cahaya yang tak boleh redup.
Itulah semangat yang dibawa oleh Mobil Perpustakaan Keliling (Perpusling) milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep saat menyambangi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hubbul Wathon, Rabu (19/3/2025).
Sejak pagi, halaman sekolah yang biasanya menjadi tempat bermain berubah menjadi pusat kegembiraan literasi. Satu per satu siswa berlarian mendekati mobil Perpusling, mata mereka berbinar menelusuri rak-rak buku yang tersusun rapi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak ada paksaan, tak ada tugas dari guru hanya antusiasme murni untuk memilih dan menjelajahi dunia yang tersimpan dalam halaman-halaman buku.
Buku-buku cerita rakyat, ensiklopedia, hingga buku keagamaan tersaji di hadapan mereka, menawarkan petualangan yang tak terbatas.

Sebagian anak segera duduk bersila di tanah, larut dalam bacaan mereka, sementara yang lain dengan riang membacakan isi buku kepada teman-temannya. Pemandangan ini seolah menjadi oase di tengah tantangan literasi yang masih dihadapi banyak daerah.
Kepala Dispusip Sumenep, Rudi Yuyianto, melalui Pustakawan Ahli Muda Drs. Syaiful Bahri, menegaskan bahwa kehadiran Perpusling adalah bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam membangun budaya baca sejak dini.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap anak di Sumenep memiliki akses terhadap bacaan yang bermutu. Buku adalah jendela dunia, dan melalui program ini, kami membuka jendela itu selebar mungkin bagi mereka,” ujar Syaiful Bahri.
Tak hanya membaca, anak-anak juga diajak untuk berbagi wawasan. Mereka yang sudah menyelesaikan buku diminta untuk bercerita kembali di hadapan teman-temannya, melatih kepercayaan diri dan daya ingat mereka.
‘Beberapa anak dengan penuh percaya diri membacakan cuplikan cerita, membuat suasana semakin hidup dan penuh inspirasi,” jelasnya.
Kepala MI Hubbul Wathon, Ustadzah Sari Nur Agustin, S.Pd., tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat antusiasme anak didiknya.
“Perpusling ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak kami. Mereka begitu antusias, begitu ingin tahu. Kami berharap program ini terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah, karena literasi adalah kunci bagi masa depan mereka,” ungkapnya.
Program Perpusling sendiri tak hanya menyasar sekolah-sekolah, tetapi juga menjangkau desa-desa, taman baca, hingga pusat-pusat kegiatan masyarakat. Misinya jelas: menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut Syaiful Bahri mengatakan, di tengah derasnya arus digitalisasi, buku tetap memiliki pesona yang tak tergantikan. Perpusling tak sekadar membawa koleksi bacaan, tetapi juga membawa harapan-harapan akan generasi yang tumbuh dengan wawasan luas, kritis dalam berpikir, dan kaya akan imajinasi.
“Literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi tentang membuka cakrawala, tentang memahami dunia, dan yang paling penting, tentang bermimpi lebih besar,” pungkas Bang Ipong sapaannya. (REDJAVA****)









