JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Gemerlap dunia batu akik kembali menyala di Kabupaten Sumenep. Lapangan Mahadewa, Desa Pangarangan, Kecamatan Kota Sumenep, dipadati para pecinta batu akik dalam gelaran “Pameran & Latber Akik Bursa dan Uji Tembak Akik Sumenep 2026” yang berlangsung meriah dan penuh antusiasme.
Ajang yang masuk dalam rangkaian kalender event daerah itu sukses menghadirkan komunitas batu akik dari berbagai wilayah daratan hingga kepulauan.
Tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya penghobi batu akik, kegiatan tersebut juga menjadi arena adu kualitas batu terbaik melalui proses uji tembak dan penilaian ketat dari dewan juri.
Tahun ini, panitia mencatat jumlah peserta mencapai 759 batu kontestan yang ikut dalam kompetisi. Ratusan batu akik dengan karakter dan pamor berbeda dipamerkan para peserta, mulai dari koleksi langka hingga batu akik dengan kualitas unggulan hasil polesan terbaik.
Ketua Panitia Pelaksana, Suharyono, mengatakan tingginya jumlah peserta menjadi bukti bahwa minat masyarakat terhadap dunia batu akik masih sangat besar.
“Alhamdulillah tahun ini peserta sangat membludak. Total ada 759 batu yang ikut dalam kontes dan itu menunjukkan antusiasme pecinta akik di Sumenep masih luar biasa,” kata Suharyono kepada media ini, Selasa (12/05/2026)
Menurutnya, kegiatan tersebut digelar sebagai wadah silaturahmi sekaligus upaya menjaga eksistensi budaya batu akik di tengah masyarakat.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang berkumpulnya seluruh pecinta batu akik. Bukan sekadar lomba, tetapi juga ajang mempererat persaudaraan dan menjaga budaya akik tetap hidup,” ujarnya.
Ia menilai kualitas batu yang tampil pada ajang kali ini jauh lebih kompetitif dibanding tahun sebelumnya.
“Banyak peserta membawa batu pilihan dengan karakter pamor yang unik dan kualitas yang sangat bagus. Persaingan tahun ini benar-benar ketat,” ungkap Yoyon sapaan akrabnya.
Tak hanya soal hobi, Suharyono menegaskan kegiatan tersebut juga berdampak terhadap geliat ekonomi kreatif masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan pedagang batu akik lokal.
“Kegiatan seperti ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Pedagang akik, aksesoris, hingga pelaku usaha kecil ikut merasakan manfaat dari ramainya acara,” jelasnya.
Ia berharap event serupa bisa terus digelar lebih besar dan menjadi agenda rutin berskala regional di Kabupaten Sumenep.
“Kami berharap kegiatan ini terus mendapat dukungan semua pihak agar ke depan bisa lebih besar lagi dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumenep,” harap dia.
Lebih lanjut, Suharyono juga menambahkan bahwa batu akik bukan hanya sekadar koleksi, tetapi memiliki nilai seni dan filosofi tersendiri.
“Setiap batu punya karakter dan cerita masing-masing. Itu yang membuat dunia akik tetap menarik dan punya tempat tersendiri di hati para pecintanya,” tambahnya.
Dalam kompetisi tersebut, dewan juri menetapkan sejumlah pemenang berdasarkan kualitas batu, karakter pamor, hingga hasil uji tembak.
Juara 1 berhasil diraih peserta dengan nomor batu 1297 dengan spesifikasi G 3,6 mm dan V 78,0 ml milik Diyengan Koclak dengan ageman pamor terbaik.

Sementara Juara 2 diraih nomor batu 1336 dengan spesifikasi G 5,1 mm dan V 70,4 ml milik Fauzi Talango dari Diyengan Talango.
Sedangkan Juara 3 diraih nomor batu 1224 dengan spesifikasi G 29,2 mm dan V 71,8 ml milik Pak Nono asal Karangnunggal, Kalianget.
Adapun nomor batu 1327 dengan spesifikasi G 54,8 mm dan kondisi V roboh milik AL Talango dari Karangnunggal turut masuk nominasi terbaik dalam ajang tersebut.
“Sedangkan untuk posisi peringkat 5 hingga 10 dilakukan melalui sistem undian lantaran batu yang lolos tahap akhir penilaian hanya berjumlah empat batu,” pungkas Suharyono.
Kemeriahan acara berlangsung hingga malam hari dengan suasana penuh keakraban antarkomunitas. Para peserta terlihat saling bertukar pengalaman, membahas karakter batu, hingga memperlihatkan koleksi akik andalan mereka.
Gelaran itu sekaligus menjadi bukti bahwa budaya batu akik di Kabupaten Sumenep masih hidup dan terus mendapat tempat di hati masyarakat. (REDJAVA****)














