JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di balik kerasnya kehidupan sebagai pemulung, Nurul menyimpan mimpi besar untuk masa depan anaknya. Ia ingin suatu hari melihat buah hatinya mengenakan seragam Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan mengabdi kepada bangsa.
Kisah perjuangan Nurul itu menjadi salah satu cerita inspiratif yang diangkat dalam Naghfir’s Institute Award 2026, sebuah ajang penghargaan yang memberi apresiasi kepada sosok-sosok sederhana namun memiliki keteguhan luar biasa dalam memperjuangkan masa depan keluarga.
Setiap hari, Nurul menyusuri jalanan dan tempat pembuangan sampah untuk mengumpulkan barang bekas. Dari pekerjaan itulah ia menafkahi keluarga sekaligus membiayai pendidikan anaknya.
Bagi Nurul, kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
“Saya hanya pemulung, tapi saya ingin anak saya punya masa depan yang lebih baik. Saya ingin dia jadi tentara supaya bisa membanggakan keluarga dan mengabdi untuk negara,” ujar Nurul dengan penuh harap.
Direktur Naghfir’s Institute, Dr Naghfir, mengatakan kisah Nurul dipilih karena mencerminkan semangat perjuangan orang tua yang rela melakukan apa saja demi masa depan anaknya.
“Kisah Nurul adalah potret keteguhan seorang ibu yang berjuang dalam diam. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap menanamkan mimpi besar kepada anaknya untuk menjadi prajurit TNI,” kata Dr Naghfir, Kamis (05/03/2026)
Menurutnya, cerita seperti ini penting diangkat ke ruang publik agar masyarakat melihat bahwa pahlawan keluarga sering kali lahir dari kehidupan yang sangat sederhana.
“Melalui Naghfir’s Institute Award, kami ingin menghadirkan cerita-cerita inspiratif dari masyarakat bawah yang jarang tersorot. Mereka adalah pejuang keluarga yang sesungguhnya,” tambahnya.
Kisah Nurul pun menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari kemewahan. Dari tangan seorang pemulung pun, harapan untuk masa depan bangsa tetap bisa tumbuh dan diperjuangkan dengan penuh keteguhan. (REDJAVA****)












