JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah tantangan keberagaman yang kerap memicu gesekan di sejumlah daerah, Kabupaten Sumenep justru menyimpan kisah panjang tentang moderasi beragama yang telah tumbuh dan mengakar jauh sebelum istilah itu populer dalam wacana kebangsaan.
Wilayah paling timur Pulau Madura ini sejak masa lalu dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang keagamaan yang hidup berdampingan secara damai. Jejak harmoni tersebut tidak hanya tercatat dalam ingatan kolektif masyarakat, tetapi juga terpatri jelas dalam peninggalan sejarah yang masih berdiri hingga kini.
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Moh. Mabrur, mengatakan bahwa nilai moderasi beragama di Sumenep bukanlah sesuatu yang dibangun secara instan, melainkan lahir dari proses sejarah yang panjang.
“Moderasi beragama di Sumenep itu bukan konsep baru. Sejarah sudah membuktikan bahwa masyarakat di daerah ini sejak dulu terbiasa hidup berdampingan secara harmonis,” kata Mabrur, Rabu (24/12/2025).
Menurut Mabrur, salah satu bukti paling nyata dapat dilihat dari tata ruang dan arsitektur tempat-tempat ibadah yang tersebar di Sumenep. Ia mencontohkan bangunan Masjid Bani, serta keberadaan rumah ibadah lintas agama yang lokasinya saling berdekatan tanpa memunculkan konflik sosial.
“Penempatan rumah-rumah ibadah yang berdekatan itu bukan kebetulan. Itu mencerminkan cara pandang masyarakat Sumenep yang sejak lama menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati,” ujarnya.
Ia menegaskan, nilai tersebut tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Hingga hari ini, sikap saling menghargai antarumat beragama masih terawat dalam kehidupan sosial masyarakat, yang mampu menjaga batas keyakinan tanpa mencampuri ajaran dan syariat masing-masing agama.
“Masyarakat Sumenep memahami betul bahwa perbedaan keyakinan bukan alasan untuk saling mengganggu. Justru di situlah letak kedewasaan dan kearifan sosial yang diwariskan oleh para pendahulu,” ungkap Mabrur.
Lebih jauh, Mabrur menilai moderasi beragama di Sumenep telah menjadi bagian dari identitas budaya lokal yang perlu terus dirawat di tengah perubahan zaman. Menurutnya, harmoni sosial merupakan modal penting dalam menciptakan stabilitas, kedamaian, dan kesejahteraan bersama.
“Moderasi dan toleransi beragama adalah kekuatan masyarakat Sumenep. Ini warisan budaya yang harus dijaga bersama agar kehidupan yang damai dan sejahtera bisa terus berlangsung,” pungkasnya
Ia berharap, nilai-nilai tersebut tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diwariskan kepada generasi muda sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat di tengah keberagaman yang semakin kompleks. (REDJAVA****)












