JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Produk melon lokal “Alissha” kembali mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satunya datang dari Syaiful, pelanggan asal Sumenep, saat berkunjung ke Padepokan Keraton Langit Sumenep di Desa Labeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, Jumat (09/06/2025).
Setelah mencicipi langsung buah melon hasil budidaya lokal itu, Andi mengaku sangat puas dengan kualitas rasanya.
“Melonnya lebih manis, lebih fresh, dan mantap!” ujar Syaiful penuh semangat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melon Alissha merupakan produk unggulan hortikultura yang dibudidayakan secara alami di wilayah utara Sumenep. Rasa manis alami dan kesegarannya menjadi daya tarik utama, ditambah kualitas panen yang terjaga dan ramah lingkungan.
Kunjungan ke Padepokan Keraton Langit Sumenep tak hanya menjadi wisata budaya dan spiritual, tetapi juga ajang promosi pertanian lokal yang digerakkan oleh semangat kemandirian warga desa.
Banyak pengunjung tertarik membeli Melon Alissha dalam jumlah besar usai mencicipi langsung di lokasi.
Ketua Padepokan Keraton Langit Sumenep, Kiai Abdul Adhim, yang juga pemilik lahan budidaya melon tersebut, menjelaskan bahwa kehadiran Melon Alissha bukan sekadar usaha tani biasa, melainkan bagian dari perjuangan besar membangkitkan semangat bertani di tengah gempuran zaman modern.
“Kami ingin membuktikan bahwa pertanian bukanlah pekerjaan rendahan, tetapi sebuah jalan mulia untuk merawat bumi dan memuliakan kehidupan. Di tengah banyaknya generasi muda yang enggan turun ke ladang, kami justru menghidupkan lahan tidur menjadi ladang berkah,” ujarnya kepada media ini, Sabtu (10/05/2025).
Ia menekankan bahwa Melon Alissha adalah buah dari proses panjang: dari riset tanah, pemilihan bibit unggul, hingga metode organik tanpa pestisida kimia.
Semua dilakukan dengan gotong royong bersama warga sekitar, dalam semangat membangun desa dari bawah.
“Keraton Langit kami jadikan pusat pemberdayaan, bukan hanya spiritual dan kebudayaan, tapi juga ekonomi kerakyatan. Kami ingin anak-anak desa percaya diri, bangga menjadi petani, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Melon ini hanya permulaan,” pungkas Kiai Abdul Adhim. (REDJAVA****)









