JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Siapa sangka, sebuah mobil pick-up sederhana yang mangkal di pojok Masjid Jami’ Sumenep bisa melahirkan sebuah fenomena kuliner baru di Kota Keris. Ya, itulah Martabak Butho, jajanan yang kini jadi buruan warga setiap sore hingga larut malam.
Antrean panjang pembeli yang rela menunggu berpuluh menit, aroma martabak manis dan telur yang menggoda, hingga topping melimpah yang jadi ciri khas, menjadikan Martabak Butho bukan sekadar makanan, melainkan gaya hidup baru masyarakat Sumenep.
Kesuksesan itu tak berhenti di satu titik. Setelah bertahun-tahun eksis di depan Masjid Jami’, Martabak Butho kini resmi membuka cabang di depan MIN Kolor. Bahkan, pada Rabu (17/9/2025), gerai baru di depan RSI Kalianget juga diresmikan, menandai langkah serius usaha ini memperluas sayap.

Dua menu utama selalu jadi incaran: martabak manis dengan aneka topping kekinian serta martabak telur dengan variasi rasa yang menggugah selera. Perpaduan adonan empuk, rasa autentik, dan isian melimpah membuat pembeli tak pernah bosan.
“Setiap hari, mulai buka jam 16.00 WIB sampai hampir tengah malam, antrean tidak pernah berhenti. Kadang saya harus menunggu hampir setengah jam, tapi rasanya sepadan,” ujar Rini (27), seorang pembeli asal Lenteng, sembari tersenyum menenteng pesanan.
Budi Kristanto, akrab disapa Butho, sang penggagas sekaligus owner, mengaku bersyukur usahanya mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Namun baginya, Martabak Butho bukan hanya soal keuntungan semata.

“Harapan kami sederhana. Kehadiran Martabak Butho di Sumenep bisa memberi manfaat positif. Kami ingin membuka peluang kerja untuk warga lokal agar bisa tumbuh bersama sebagai bagian dari tim,” kata Butho sapaan akrabnya kepada media ini, Rabu (24/09/2025).
Benar saja, sebagian besar karyawan di setiap cabang merupakan warga Sumenep. Ia menegaskan, kesuksesan ini harus dirasakan bersama, bukan hanya dirinya.
Sementara itu, Anang Endro, manajer pemasaran Martabak Butho, menyebut pembukaan cabang baru adalah jawaban dari tingginya antusiasme warga.
“Kami melihat permintaan masyarakat semakin besar. Jadi, ekspansi ini bukan hanya strategi bisnis, tapi komitmen jangka panjang untuk menjadikan Martabak Butho ikon kuliner khas Sumenep,” ungkap Anang.
Menurutnya, konsistensi adalah kunci.
“Di cabang manapun, standar kualitas rasa, bahan, dan pelayanan akan tetap sama. Kami tidak ingin pembeli merasakan perbedaan,” sambungnya.
Fenomena Martabak Butho semakin ramai dibicarakan di media sosial. Warganet kerap membagikan foto martabak dengan topping melimpah, lengkap dengan cerita perjuangan mereka mengantre.
Tak sedikit yang menyebut, tanpa Martabak Butho, suasana malam di Sumenep terasa kurang lengkap. Di tengah banyak usaha kuliner yang silih berganti, Martabak Butho justru mampu bertahan dengan konsistensi rasa dan pelayanan.
“Kami tidak muluk-muluk. Target kami sederhana, bisa terus tumbuh dan bertahan. Yang penting usaha ini membawa dampak baik bagi masyarakat,” tandas Anang Endro.
Kini, Martabak Butho tak lagi sekadar makanan pinggir jalan. Ia telah menjelma menjadi ikon kuliner baru Sumenep, yang setiap cabang barunya selalu disambut meriah, baik di lapangan maupun dunia maya. (REDJAVA****)












