JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum (STAIM) Sumenep menjelma menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus panggung kepedulian sosial mahasiswa. Tak sekadar ritual keagamaan, kegiatan ini menegaskan peran kampus sebagai pusat pembentukan karakter, kepemimpinan, dan empati sosial.
Mengusung tema “Isra Mi’raj sebagai Spirit Kepemimpinan, Intelektualitas, dan Moral Mahasiswa”, acara digelar di Aula Kampus STAIM, Selasa (13/1/2026), melalui kolaborasi Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Kabinet Yugantara Pramana, seluruh Organisasi Mahasiswa (ORMAWA), serta Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sumenep.
Kolaborasi lintas elemen tersebut diwujudkan dalam bentuk santunan anak yatim, sebagai simbol konkret integrasi nilai-nilai keislaman dengan tanggung jawab sosial. Sejak awal acara, atmosfer khidmat terasa kental melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat Nabi yang menggema di aula kampus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini dihadiri pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, perwakilan BAZNAS, serta puluhan anak yatim yang menjadi penerima manfaat. Rangkaian acara berlangsung tertib, sarat makna, dan menegaskan wajah mahasiswa sebagai aktor perubahan sosial.
Ketua BEM KM STAIM, Ach. Fadhlan Masykuri, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan manifestasi kepedulian mahasiswa terhadap realitas sosial di sekitarnya.
“Ini bukan sekadar peringatan hari besar Islam. Kami ingin menghadirkan nilai Isra Mi’raj dalam tindakan nyata, khususnya kepedulian terhadap anak-anak yatim. Kolaborasi ini membuktikan mahasiswa mampu bergerak bersama untuk kemanusiaan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua STAIM Sumenep, Moh. Sholeh, M.Pd., menyebut Isra Mi’raj sebagai momentum penting untuk merefleksikan peran mahasiswa di tengah tantangan zaman. Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kematangan spiritual dan kepekaan sosial.
“Mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Mereka tidak cukup hanya cakap secara akademik, tetapi juga harus memiliki moral, iman, dan empati. Kegiatan hari ini menunjukkan bahwa BEM dan ORMAWA STAIM mampu menghadirkan dakwah yang membumi dan berdampak,” tegasnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan sejati tidak lahir dari kekuasaan semata, melainkan dari kemampuan merasakan penderitaan sesama dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan santunan anak yatim secara simbolis, yang diserahkan langsung oleh Ketua STAIM bersama Perwakilan BAZNAS Sumenep, Zainul Huda. Momen tersebut menjadi penegasan bahwa nilai-nilai spiritual tidak berhenti pada wacana, tetapi diterjemahkan dalam aksi nyata.
Kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah oleh Ketua PC GP Ansor Sumenep, K.H. Qumri Rahman. Dalam mauidzah hasanahnya, ia mengulas Isra Mi’raj sebagai fondasi nilai kepemimpinan profetik kepemimpinan yang berakar pada ilmu, akhlak, dan ketakwaan.
“Isra Mi’raj adalah peristiwa besar yang mengajarkan kedisiplinan spiritual, keteguhan iman, dan kemuliaan akhlak. Dari sinilah lahir pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas,” jelasnya.
Ia juga menyinggung fenomena kegelisahan generasi muda yang kerap mencari ketenangan pada jalan yang keliru.
“Banyak anak muda terjebak pada pelarian yang merusak. Padahal ketenangan sejati hanya ditemukan dalam kedekatan dengan Allah. Kampus harus terus menjadi ruang yang menyeimbangkan dinamika intelektual dan spiritual,” tutupnya.
Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Peringatan Isra Mi’raj di STAIM Sumenep tahun ini pun meninggalkan pesan kuat: mahasiswa bukan hanya agen perubahan intelektual, tetapi juga penjaga nilai moral dan kemanusiaan. (REDJAVA/$$$)










