JAVANETWORK.CO.ID, SUMENEP — Ketika fajar menggeliat di ufuk timur Pulau Madura, sebuah denyut budaya mulai berdegup kencang dari jantung kota Sumenep. Festival Jaran Serek Madura 2025 siap digelar, menandai kebangkitan semangat warisan yang melampaui zaman.
Diselenggarakan pada Senin, 5 Mei 2025, mulai pukul 07.00 WIB, festival ini bukan sekadar pawai rakyat, melainkan ritus budaya yang berakar dalam sejarah dan identitas masyarakat Madura. Prosesi ini menjadi simbol perjalanan nilai dari masa silam menuju masa depan.
Bupati Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, S.H., M.H., dijadwalkan membuka sekaligus memimpin langsung prosesi tersebut. Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan makna filosofis dari festival ini:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jaran Serek bukan sekadar seni pertunjukan, ia adalah nadi peradaban Madura. Simbol keberanian, kehormatan, dan solidaritas yang harus terus kita hidupkan bersama,” kata Bupati Fauzi dalam keterangan tertulis, Kamis (24/04/2025).
Tak hanya parade kuda berhias dan atraksi akrobatik nan memukau, Festival Jaran Serek adalah cermin sejarah panjang masyarakat Sumenep dalam merawat budaya bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai napas kolektif menuju peradaban baru.
Diperkirakan ribuan warga akan memadati jalur prosesi. Mereka tak hanya hadir sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari narasi budaya yang terus ditulis ulang dari generasi ke generasi.
Perhelatan ini merupakan buah dari kolaborasi lintas sektoral, melibatkan kekuatan strategis Pemerintah Kabupaten Sumenep:
– Sekretariat DPRD Sumenep
– Dinas PUTR Sumenep
– RSUD dr. H. Moh. Anwar
– BKAD Sumenep
– Disbudporapar Sumenep
Festival ini juga didukung penuh oleh Paguyuban Jaran Serek Pandighe, sinergi nasional dari Wonderful Indonesia, para pelaku UMKM, media lokal dan nasional, serta mitra industri seperti SKK Migas dan HCML.
Festival ini diharapkan menjadi pemantik ledakan ekonomi kreatif dan kebudayaan lokal yang tak hanya hidup, tetapi menyala dan menular.
“Sumenep tidak hanya menyimpan sejarah. Ia menciptakan peristiwa. Dan Jaran Serek adalah denyut budaya yang membangkitkan kembali semangat kebangsaan dari jantung Madura,” lanjut Bupati Fauzi.
Di balik artistika lambang Kabupaten Sumenep yang mencolok, tersembunyi filsafat mendalam: kuda terbang bukan sekadar simbol heraldik, tetapi alegori kekuatan, kecepatan, dan kemuliaan.
“Kuda terbang bukan mitos. Ia metafora dari semangat kami: lompatan besar menuju pelayanan publik yang unggul, budaya yang berakar, dan masa depan yang mandiri serta kompetitif,” jelasnya.
Dalam khazanah budaya Madura, kuda adalah lambang kekuatan dan martabat. Maka tak heran bila tradisi Jaran Serek menjadi ikon yang melampaui batas panggung budaya. Dan ketika elemen “terbang” ditambahkan, maka terbanglah harapan menembus batas geografis dan sejarah, menukik ke masa depan.
Simbol itu bersandar pada falsafah luhur Bhuppa’, Bhabbu’, Ghuru, Rato empat tiang kehormatan dalam tatanan masyarakat Madura. Kini, dengan semangat inovasi, kuda terbang menjadi panji kebijakan strategis: dari pembangunan infrastruktur, pariwisata, hingga pengembangan ekonomi kreatif.
“Kami ingin Sumenep menjadi poros budaya dan kemajuan Madura. Dan kuda terbang adalah panji dari perjuangan itu,” pungkas Bupati Fauzi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, H. Moh. Iksan, S.Pd., M.T., menjelaskan bahwa rute pawai akan dimulai dari depan rumah dinas Bupati di Jalan Panglima Sudirman dan berakhir di Lapangan Giling mengarungi denyut kota, menggiring rasa kagum dan kebanggaan.
“Festival Jaran Serek Madura 2025 bukan hanya panggung budaya. Ia adalah panggilan sejarah, dan Sumenep menjawabnya dengan sorak rakyat, derap kuda, dan semangat yang membara,” ujarnya saat dikonfirmasi. (REDJAVA****)









