JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sebuah capaian monumental kembali ditorehkan oleh SMK Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep. Pada momentum Lepas Kenang Santri Kelas Akhir, Minggu (29/6/2025), sekolah berbasis pesantren ini mempersembahkan 24 karya buku yang ditulis oleh para santri kelas akhir tahun ajaran 2024/2025. Bukan sekadar angka, karya-karya ini adalah bukti nyata bahwa pendidikan pesantren mampu menembus batas-batas tradisional menuju dunia literasi yang progresif dan mencerdaskan.
Pernyataan membanggakan ini disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan Nasyrul Ulum, Dr. Zamzami Sabiq Hamid, M.Psi., dalam sambutan penuhnya di hadapan ratusan hadirin yang memenuhi Auditorium Ar Rochmah. Dengan penuh keyakinan, ia menyampaikan bahwa apa yang dicapai para santri bukan semata keberhasilan pribadi, melainkan cerminan dari sistem pendidikan yang telah mereka jalani sebuah sistem yang memadukan nilai spiritual, keterampilan kejuruan, dan kemampuan literasi secara utuh.
“Ini adalah wajah baru pesantren. Santri tidak hanya mengaji dan menghafal, tapi juga menulis dan menggagas. Mereka bukan sekadar konsumen pengetahuan, tetapi produsen gagasan.” tegas Dr. Zamzami penuh semangat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya membangun budaya menulis di kalangan generasi muda. Di tengah arus deras digitalisasi yang kerap menenggelamkan anak muda dalam dunia hampa konten instan, para santri Nasyrul Ulum justru memilih jalan sunyi namun mulia: menulis dan membukukan pemikiran mereka.
“Ketika sebagian besar generasi muda tenggelam dalam pusaran media sosial, santri kami justru menjadikan tulisan sebagai jalan dakwah dan transformasi sosial. Ini bukan hal biasa ini langkah peradaban.” ungkapnya.
Karya-karya yang dihasilkan santri meliputi berbagai genre, dari cerpen, esai reflektif, kumpulan puisi, hingga tulisan inspiratif dan motivasional. Semua itu lahir dari program literasi intensif yang dibangun sejak kelas awal dan dikawal secara sistematis oleh guru-guru pendamping.
Senada dengan hal itu, Kepala SMK Nasyrul Ulum, Nurul Yaqin, M.Pd., menegaskan bahwa menulis buku merupakan program unggulan sekolah dalam mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja secara teknis, tetapi juga tangguh dalam berpikir kritis dan komunikatif secara tertulis.
“Kami ingin santri kami tak hanya mahir dalam keahlian kejuruan, tetapi juga unggul dalam membangun narasi. Dunia kerja hari ini butuh SDM yang bisa menyampaikan ide, menulis laporan, merancang proposal, dan menyampaikan gagasan secara tertulis. Di sinilah kekuatan mereka.” ujar Nurul Yaqin.
Menurutnya, karya-karya tersebut akan dipublikasikan secara resmi dan dijadikan sebagai portofolio akademik maupun modal sosial bagi para santri dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya atau masuk ke dunia profesional. Ini sekaligus menjadi pembeda SMK Nasyrul Ulum dengan sekolah kejuruan pada umumnya.
Acara Lepas Kenang yang berlangsung dengan khidmat dan haru itu turut dihadiri oleh para wali santri, dewan guru, pengasuh pesantren, serta sejumlah tokoh masyarakat. Salah satu momen paling mengharukan adalah saat para santri naik ke panggung satu per satu, menerima piagam penghargaan atas karya tulis mereka, diiringi gemuruh tepuk tangan dan sorak bangga dari seluruh hadirin.
Keberhasilan SMK Nasyrul Ulum ini menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan jantung dari proses pendidikan itu sendiri. Pesantren yang dahulu dikenal sebagai pusat spiritualitas kini juga tampil sebagai titik terang peradaban, melahirkan generasi muda yang berpikir, menulis, dan membangun masa depan.
Dengan langkah ini, SMK Nasyrul Ulum tidak hanya mengukir prestasi, tetapi juga memperkuat narasi bahwa santri bisa menulis, santri bisa menginspirasi, dan pesantren bisa memimpin zaman. (REDJAVA****)









