JAVANETWORK.CO.ID.ESSAI – Seleksi komisioner Komisi Informasi di Sumenep telah rampung. Nama-nama sudah diumumkan. DPRD, lewat Komisi I, menuntaskan bagiannya.
Namun, sebagaimana lazimnya di republik ini, setiap seleksi jarang benar-benar selesai. Selalu ada yang tersisa: gumam lirih, kekecewaan samar, dan tanda tanya yang menggantung.
Spanduk ucapan selamat sudah siap dicetak, poster sudah jadi status di media sosial, dan proses dianggap tuntas. Semua tampak rapi.
Tapi publik tahu, seleksi di negeri ini sering hanya sebatas panggung. Ada panggung depan yang penuh sorot lampu wawancara disiarkan live, fit and proper test dipublikasikan, seolah-olah menandai transparansi.
Sementara ruang belakang tetap tertutup rapat, dengan cerita yang tak pernah benar-benar terbuka.
Kini yang tersisa hanyalah bisik-bisik: “Mengapa yang itu terpilih? Mengapa yang lain gugur?”
Pertanyaan itu sesungguhnya tak menuntut jawaban, sebab publik mafhum: jawaban jarang sekali datang dari proses semacam ini.
Mereka yang kecewa memilih diam. Ada yang menganggap biasa, ada yang pasrah, ada pula yang berusaha menafsirkan hasil ini sebagai pilihan terbaik.
Namun, aroma persoalan tetap mengambang di udara. Bukan hanya soal kelayakan yang selalu bisa diperdebatkan melainkan juga dugaan “transaksi” di balik layar.
Isu yang tak pernah terbukti, tapi selalu hadir dalam setiap percakapan tentang seleksi pejabat publik.
Meski begitu, marilah kita adil. Mereka yang terpilih tetap punya kesempatan. Kesempatan untuk membuktikan diri, kesempatan untuk menjawab nyinyir dengan kinerja.
Jika benar-benar qualified, jika kerja mereka sungguh terasa, maka semua kecurigaan akan memudar.
Waktu yang akan menimbang: apakah mereka hanya sekadar nama di daftar keputusan DPRD, ataukah benar-benar komisioner yang memberi makna bagi keterbukaan informasi.
Dan soal gosip, isu, serta kabar-kabar yang beredar itu? Biarlah. Politik kita sudah terlalu terbiasa dengan kabar-kabar yang lebih sering berfungsi sebagai bayangan ketimbang kenyataan.
Seleksi memang sudah selesai. Tapi yang tak pernah selesai adalah menunggu: apakah kekecewaan diam itu akan berbuah pengakuan, atau justru menjadi catatan panjang lain tentang proses yang tak pernah bebas dari nyinyir.
Waktu, pada akhirnya, akan menguji.
Namun, seperti kita tahu, waktu di negeri ini lebih sering memperpanjang daftar nyinyir ketimbang memberi jawaban.
Seperti Anda, barangkali. Maaf. (REDJAVA****)
Penulis : Akhmadi Yasid (Jurnalis Senior, kini mengabdi di parlemen) 18/08/2025
Editor : REDJAVA












