JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Laut Sumenep kembali menorehkan kisah dramatis tentang perjuangan hidup. Enam anak buah kapal (ABK) KLM. Sampurna GT. 80 asal Pasean, Pamekasan, berhasil selamat setelah tiga hari terombang-ambing di lautan usai kapal mereka tenggelam di perairan utara Sumenep.
Mereka ditemukan pada Kamis (27/3/2025) pagi oleh nelayan setempat di perairan Dusun Nyamplong Ondung, Desa Kalikatak, Kecamatan Arjasa, sekitar dua mil dari bibir pantai. Kondisi mereka lemah, tetapi semangat bertahan hidup yang luar biasa membuat mereka mampu menghadapi ganasnya ombak selama berhari-hari.
Insiden ini bermula pada Senin (24/3/2025) sore, ketika KLM. Sampurna yang membawa 220 meter kubik kayu gellam bertolak dari Kalimantan Tengah menuju Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Kapal yang dikomandoi Moh Sai (55) bersama lima ABK lainnya itu awalnya berlayar dengan lancar.
Namun, di tengah perjalanan, Selasa (25/3/2025) pagi, kapal mengalami kerusakan serius pada pompa air. Sistem pembuangan air lumpuh total, menyebabkan lambung kapal terus terisi air. Meski sempat melakukan berbagai upaya perbaikan, nasib berkata lain kapal perlahan-lahan tenggelam di sekitar perairan Pulau Giliyang, sekitar 23 mil dari pantai.
“Kami hanya bisa berpegangan pada kayu dan galon untuk membuat rakit darurat,” ujar Moh Sai dengan suara bergetar, mengenang momen kritis itu.
Hari demi hari berlalu. Tanpa makanan dan hanya mengandalkan sisa air hujan yang tertampung di pelampung, mereka bertahan dengan harapan ada kapal yang melintas. Malam-malam di laut terasa begitu panjang, gelap, dan dingin. Ombak yang datang silih berganti menghempaskan mereka ke arah yang tak tentu.
“Kami sempat putus asa, tetapi satu sama lain terus menyemangati. Kami percaya, pasti ada pertolongan,” tambahnya.
Kamis pagi, saat matahari baru saja menampakkan sinarnya, nelayan bernama Jupri yang sedang melaut melihat pemandangan ganjil sekelompok orang melambaikan kain, tanda darurat yang sudah dikenal baik oleh para pelaut. Tanpa ragu, ia bersama rekannya mendekati mereka.
Saat perahu nelayan semakin dekat, terlihat wajah-wajah penuh kelelahan dan harapan.
“Ketika kami mendekat, mereka langsung menangis. Ada yang langsung sujud syukur di atas perahu kami,” ungkap Jupri.
Tanpa membuang waktu, keenam korban dibawa ke rumah warga setempat untuk diberi makanan dan minuman, sebelum akhirnya dilaporkan ke Polsek Kangean.
Kapolsek Arjasa IPTU Datun yang tiba beberapa jam kemudian memastikan kondisi mereka stabil meski mengalami kelelahan hebat dan dehidrasi ringan. Seluruh korban kemudian dibawa ke Puskesmas Arjasa untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut sebelum dievakuasi ke Sumenep.
Tepat pukul 13.00 WIB, tim KN SAR Permadi mengangkut mereka dari Pelabuhan Batuguluk, Arjasa, menuju Pelabuhan Kalianget. Diperkirakan, mereka tiba di daratan utama Sumenep sekitar pukul 19.00 WIB.
Keberhasilan operasi penyelamatan ini tak lepas dari kerja sama berbagai pihak. Tim KN SAR Permadi, Polairud, Pos SAR Sumenep, dan nelayan setempat bekerja bahu-membahu, meski harus menghadapi cuaca yang kurang bersahabat gelombang setinggi 1,5 meter dan hujan ringan yang membuat navigasi semakin sulit.
Kasat Polairud Polres Sumenep, AKP Moch. Rofiq, S.H., mengungkapkan apresiasinya terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam penyelamatan ini.
“Ini adalah bukti bahwa dengan koordinasi yang cepat dan kerja sama yang solid, kita bisa menyelamatkan nyawa dalam situasi genting. Alhamdulillah, keenam ABK ditemukan dalam kondisi selamat,” ujarnya, Jum’at (28/03/2025)
Kini, setelah tiga hari berjuang di tengah ganasnya lautan, keenam pelaut itu akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di daratan sebuah keajaiban yang hanya bisa terjadi berkat ketangguhan, keberuntungan, dan tangan-tangan penyelamat yang sigap bertindak.
Nama-Nama ABK yang Selamat:
1. Moh Sai (55) – Nahkoda, asal Desa Sotaber, Kecamatan Pasean, Pamekasan.
2. Hosen (53) – ABK, asal Desa Tloto Raje, Kecamatan Pasean, Pamekasan.
3. Ali Wafa (45) – ABK asal Desa Sotaber, Kecamatan Pasean, Pamekasan.
4. Askuryadi (46) – ABK, asal Desa Sotaber, Kecamatan Pasean, Pamekasan.
5. Johari (25) – ABK, asal Desa Sotaber, Kecamatan Pasean, Pamekasan.
6. Adnan (60) – ABK, asal Desa Sotaber, Kecamatan Pasean, Pamekasan.
Setelah cobaan berat di tengah samudra, keenam ABK ini kini punya satu kisah yang akan selalu mereka kenang seumur hidup kisah bagaimana mereka melawan maut dan menang. (REDJAVA****)










