JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di balik tembok tinggi yang sering kali menyimpan kisah pilu, sebuah mahakarya justru lahir dan mencuri perhatian publik.
Program pembinaan Batik Catra, yang digagas Rutan Kelas IIB Sumenep, berhasil membawa harum nama seni batik tulis khas Madura hingga tingkat nasional.
Pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 Paguyuban Ibu-Ibu Pemasyarakatan (PIPAS), Jumat (24/1/2025), program ini dianugerahi penghargaan prestisius “Askara Abinawa.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh tokoh inspiratif, Ibu Evi Agus Andrianto dan Ibu Deasy Mashudi, kepada perwakilan dari Kantor Wilayah Ditjenpas Jawa Timur, Kadiyono.
Dengan suasana penuh kehangatan, acara ini seolah menjadi bukti bahwa kreativitas tidak pernah mengenal batas, bahkan di balik jeruji besi.
Ridwan Susilo, Kepala Rutan Sumenep, tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menanggapi penghargaan ini.
“Ini bukan sekadar prestasi, tetapi juga kemenangan mental bagi warga binaan kami. Mereka menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk melahirkan karya yang luar biasa. Batik Catra adalah bukti bahwa jeruji tak mampu menahan semangat untuk terus berkarya,” kata Ridwan dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/01/2025).
Menurutnya, Program Batik Catra telah membuktikan dirinya sebagai inovasi unggulan dengan menghasilkan motif batik tulis khas Sumenep yang kini resmi memiliki sertifikat hak paten.
Motif-motif ini tidak hanya mencerminkan keindahan budaya lokal, tetapi juga merefleksikan perjalanan emosional dan harapan para pembuatnya.
“Askara Abinawa bukan sekadar penghargaan, melainkan lambang pengakuan atas kreativitas warga binaan yang melampaui ekspektasi,” ungkapnya.
Program ini juga menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan dan pembinaan di dalam institusi pemasyarakatan yang lebih dari sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang untuk bertumbuh.
“Kami berharap Batik Catra mampu menjelma menjadi simbol pemberdayaan yang menginspirasi. Tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi warga binaan untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dari balik jeruji, kisah Batik Catra adalah bukti bahwa seni dan budaya memiliki kekuatan untuk mengubah hidup, memberikan harapan, dan menciptakan keajaiban. (REDJAVA****)








