JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Tak banyak pemimpin yang meninggalkan jejak, bukan hanya dalam struktur kelembagaan, tetapi juga dalam hati masyarakat.
Namun itulah yang dilakukan Ridwan Susilo, A.Md. IP., M.M., selama menjabat sebagai Kepala Rumah Tahanan Negara (Karutan) Sumenep.
Di tengah tugas negara yang sarat tanggung jawab, Ridwan bukan hanya hadir sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai sahabat, pembina, dan bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Rutan Sumenep.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sosok Karutan yang dikenal sebagai pribadi yang humanis, tegas namun bersahaja, dan mampu menyulap suasana kerja menjadi lingkungan penuh semangat, kebersamaan, dan rasa saling percaya.
“Semangat dan kekompakan jajaran petugas adalah kekuatan utama kami dalam membangun Rutan Sumenep menjadi lebih baik. Saya merasa sangat bangga dan bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan itu,” kata Ridwan Susilo lewat pesan WhatsApp, Selasa (20/05/2025)
Namun yang paling menyentuh bukan hanya pernyataannya tentang lembaga, melainkan ungkapan hatinya tentang tanah yang ia pijak: Kabupaten Sumenep.
“Sumenep bukan sekadar tempat bertugas. Ini rumah kedua saya. Masyarakatnya ramah, santun, dan menjunjung tinggi adab itulah yang membuat saya merasa betah dan terhormat bisa mengabdi di sini,” ujarnya.
Ridwan bahkan menyisipkan pesan penuh cinta untuk siapa saja yang belum pernah menginjakkan kaki di ujung timur Pulau Madura.
“Jika berkesempatan ke Madura, sempatkanlah singgah ke Sumenep. Kekayaan budaya, sejarah, dan keramahan warganya akan menyentuh sisi terdalam siapa pun. Dan sore hari di Pantai Lombang sambil menikmati ketan, akan jadi kenangan yang tak mudah dilupakan,’ ungkapnya.
Kini, kepergian Ridwan dari Rutan Sumenep tak hanya menyisakan rotasi struktural.
Ia meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan: ketulusan. Dan ketulusan itu, barangkali akan terus abadi terpatri dalam debur ombak Lombang, dalam secangkir kopi sore di warung pelabuhan, dan dalam kenangan kolektif warga Sumenep.
“Sampai jumpa di lain kesempatan. Mator Sakalangkong,” tutupnya pelan, namun dalam. Sebuah kalimat sederhana, tapi cukup untuk membuat banyak hati terasa hangat. (REDJAVA****)








