JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dalam dinamika kehidupan masyarakat modern yang kian cepat dan individualistis, semangat kebersamaan sering kali tergerus oleh kesibukan masing-masing.
Namun, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sekelompok warga yang tergabung dalam komunitas Kampung Tangguh Sejati (KTS).
Komunitas ini hadir sebagai ruang alternatif untuk kembali menghidupkan nilai-nilai sosial yang selama ini mulai pudar.
Dipimpin oleh Abdul Hadi, KTS bermarkas di sebuah tempat sederhana namun penuh makna: Café D Laris.
Tempat ini bukan sekadar lokasi berkumpul, melainkan telah menjadi simbol dari sebuah gerakan sosial berbasis kebersamaan.
Dengan 43 anggota aktif, KTS secara konsisten membangun ruang silaturahmi, mempererat persahabatan, dan menanamkan nilai persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap malam Minggu, komunitas ini rutin menggelar kegiatan kebersamaan yang dikemas secara kreatif dan penuh kehangatan.
Tak hanya kumpul biasa, acara ini diisi dengan berbagai kegiatan menarik mulai dari penggunaan kostum tematik, hiburan ringan, hingga jamuan makanan dan minuman gratis yang diperuntukkan bagi semua anggota maupun tamu yang hadir.
Lebih dari sekadar kegiatan hiburan, KTS memaknai setiap pertemuan sebagai momentum memperkuat ikatan sosial.
Setiap tawa, obrolan, dan pelukan persaudaraan yang terjadi dalam malam-malam kebersamaan itu menjadi semacam energi positif yang dirasakan oleh seluruh anggota.
Dalam wawancara dengan media pada Rabu (28/05/2025), Ketua KTS Abdul Hadi menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari rasa tanggung jawab moral terhadap lingkungan sosial.
“Kami melihat bahwa masyarakat kita membutuhkan ruang untuk kembali terhubung, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara emosional. Di sinilah KTS hadir menjadi tempat untuk saling mendengar, mendukung, dan menguatkan satu sama lain,” tutur Abdul Hadi kepada media ini, Rabu (28/05/2025)
Menurut Abdul Hadi, KTS juga menjadi ruang inklusif yang terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.
Anggotanya berasal dari berbagai usia, profesi, dan bahkan keyakinan, tetapi disatukan oleh satu semangat: menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan saling peduli.
Selain kegiatan rutin malam Minggu, KTS juga sering terlibat dalam aksi sosial seperti pembagian sembako, kunjungan ke panti asuhan, serta dukungan terhadap warga yang sedang tertimpa musibah.
Komunitas ini perlahan membangun kepercayaan masyarakat sebagai entitas sosial yang bukan hanya berbicara, tetapi juga bertindak nyata.
“Kami percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dari berkumpul dan berbagi cerita, hingga berbagi makanan dan perhatian semua itu adalah bentuk cinta yang kami tumbuhkan bersama,” tambah Abdul Hadi.
Kini, Café D Laris tak hanya dikenal sebagai tempat nongkrong biasa, tetapi juga telah menjelma sebagai titik temu berbagai hati yang ingin saling menguatkan.
Suasana akrab dan persahabatan yang terasa di setiap malam Minggu membuat siapa pun yang hadir merasa menjadi bagian dari keluarga besar yang penuh kehangatan.
“Kami berharap semangat seperti ini bisa menular ke lingkungan lain, agar semakin banyak ruang positif tumbuh di tengah masyarakat,” pungkas Abdul Hadi. (REDJAVA****)










