JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Suasana khidmat menyelimuti Mosholla As-Sholihin SMA Negeri 3 Sumenep, Kamis (15/1/2026). Ratusan siswa kelas X, XI, dan XII bersama dewan guru serta tenaga administrasi sekolah larut dalam peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1446 Hijriah.
Mengusung tema “Merajut Kedekatan dengan Allah SWT Melalui Kedisiplinan Beribadah”, peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini tidak sekadar menjadi agenda rutin keagamaan, tetapi dimaknai sebagai momentum strategis pembentukan karakter spiritual generasi muda di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Kepala SMAN 3 Sumenep, Hj. RA. Hari Utami Dewi, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa monumental yang sarat nilai pendidikan karakter, khususnya bagi pelajar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Peringatan Isra’ Mi’raj bukan sekadar seremonial tahunan. Ini adalah ajakan untuk merenung, apakah ibadah kita selama ini sudah dijalankan dengan penuh kesadaran dan kedisiplinan,” kata Hari Utami Dewi dalam sambutannya.
Menurutnya, peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi bukti bahwa kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT dibangun melalui konsistensi dan komitmen, terutama dalam menunaikan salat lima waktu.
“Salat adalah perintah yang diterima Rasulullah SAW langsung dari Allah di langit ketujuh. Itu menandakan betapa pentingnya salat dalam kehidupan seorang Muslim. Disiplin salat adalah bentuk kedisiplinan tertinggi seorang hamba kepada Tuhannya,” tegasnya.
Ia menambahkan, nilai kedisiplinan dalam ibadah memiliki korelasi langsung dengan pembentukan karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anakku adalah calon pemimpin masa depan. Kepemimpinan sejati dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri. Disiplin beribadah akan melatih manajemen waktu, tanggung jawab, dan integritas,” tutupnya.
Peringatan Isra’ Mi’raj semakin bermakna dengan kehadiran KH. Qumri Rahman sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, KH. Qumri mengajak seluruh hadirin menyelami makna mendalam perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW.
“Isra’ adalah perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sementara Mi’raj adalah perjalanan vertikal menuju Sidratul Muntaha. Ini bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi pesan besar tentang hubungan manusia dengan Allah,” tutur KH. Qumri.
Ia menjelaskan, perintah salat yang awalnya berjumlah 50 rakaat hingga diringankan menjadi lima waktu dengan pahala berlipat ganda menunjukkan kasih sayang Allah sekaligus ujian kedisiplinan bagi umat Islam.
“Pertanyaannya sederhana, apakah kita mampu menjaga lima waktu salat itu dengan konsisten?” ujarnya.
KH. Qumri juga menekankan bahwa Isra’ Mi’raj mengajarkan keteguhan iman, kesabaran, dan kedisiplinan dalam menjalani kehidupan, terutama di tengah berbagai ujian zaman.
Antusiasme siswa tampak jelas sepanjang acara. Mereka menyimak tausiyah dengan penuh perhatian, bahkan sebagian mencatat poin-poin penting yang disampaikan penceramah.
Peringatan Isra’ Mi’raj di SMAN 3 Sumenep pun ditutup dengan harapan besar: lahirnya generasi pelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual, berakhlak mulia, dan memiliki kedisiplinan ibadah sebagai fondasi hidup. (REDJAVA/$$$)









