JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep resmi mencabut status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak melalui Surat Keputusan (SK) Bupati tertanggal 18 Desember 2025. Status KLB sendiri sebelumnya ditetapkan pada Agustus 2025 menyusul meningkatnya kasus campak di sejumlah wilayah.
Meski status darurat telah berakhir, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep memastikan upaya perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, tetap berjalan optimal melalui penguatan imunisasi rutin dan program imunisasi kejar.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), H. Achmad Syamsuri, S.Kep.Ns., M.H., menegaskan bahwa pencabutan KLB bukan berarti kewaspadaan ikut berkurang.
“Pasca pencabutan KLB, kami memang bisa sedikit lebih longgar, tetapi upaya perlindungan tetap berjalan. Imunisasi rutin tetap dilaksanakan, dan kami tambahkan imunisasi kejar untuk mengejar anak-anak yang belum lengkap imunisasinya,” kata Kabid P2P H. Achmad Syamsuri.
Program imunisasi kejar difokuskan pada bayi, balita, dan baduta yang belum mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Berdasarkan data puskesmas, masih terdapat anak-anak yang mengalami keterlambatan imunisasi akibat berbagai faktor.
“Sering kali anak tidak bisa diimunisasi karena sedang sakit, seperti demam atau batuk. Ada juga orang tua yang menunda lalu lupa, sehingga jadwal imunisasi terlewat. Nah, anak-anak inilah yang menjadi sasaran imunisasi kejar,” jelasnya.
Pelaksanaan program ini dilakukan secara berbasis data di masing-masing wilayah kerja puskesmas dan terus dipantau melalui evaluasi rutin setiap bulan.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Kecamatan Kalianget, yang sebelumnya mencatat jumlah kasus campak tertinggi sekaligus cakupan imunisasi yang relatif rendah.
Seiring berjalannya waktu, tren kasus campak di Sumenep menunjukkan penurunan signifikan. Sejak Januari 2026, kasus mulai melandai meskipun masih ditemukan dalam jumlah terbatas.
“Sejak awal tahun, kasus campak sudah menurun. Memang masih ada satu dua kasus, tetapi itu wajar. Bahkan anak yang sudah diimunisasi masih mungkin terkena campak, namun biasanya tidak sampai parah. Ini menunjukkan imunisasi tetap memberikan perlindungan penting,” ungkapnya.
Di sisi lain, Dinkes juga mencatat adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi pasca terjadinya KLB. Namun, masih ada sebagian masyarakat yang ragu, terutama terkait isu kehalalan vaksin.
Untuk menjawab keraguan tersebut, pemerintah daerah telah menggandeng tokoh lintas organisasi keagamaan dan mengajak mereka melihat langsung proses produksi vaksin di Bio Farma.
“Kami sudah melibatkan tokoh agama dari berbagai organisasi untuk melihat langsung proses pembuatan vaksin, mulai dari produksi hingga distribusi. Ini untuk memastikan bahwa vaksin aman dan telah sesuai dengan ketentuan, termasuk aspek kehalalan,” tegas H. Achmad Syamsuri.
Melalui upaya tersebut, pemerintah berharap kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi semakin meningkat, sehingga cakupan imunisasi dapat merata di seluruh wilayah, baik daratan maupun kepulauan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak ragu membawa anak-anaknya ke puskesmas, posyandu, atau fasilitas kesehatan terdekat. Imunisasi itu aman, penting, dan menjadi investasi kesehatan bagi anak-anak agar terhindar dari penyakit yang dapat dicegah,” pungkasnya. (REDJAVA****)












