JAVANETWORK.CO.ID.ESSAI – Bicara soal pemberantasan rokok ilegal memang terdengar sederhana. Namun tanpa tawaran solusi bagi rakyat kecil, sikap itu bukanlah keberpihakan, melainkan pengkhianatan.
Belakangan, publik disuguhi pernyataan lantang Nur Faizin, anggota DPRD Jawa Timur dari PKB, yang mendesak pemerintah untuk segera menindak tegas peredaran rokok ilegal. Gayanya bak pahlawan kesiangan, seolah tengah membela negara dari ancaman besar. Tetapi jika ditelisik lebih dalam, retorika ini justru penuh kontradiksi: vokal dalam penindakan, namun nyaris bisu saat bicara solusi.
Kita tentu sepakat, rokok ilegal memang menggerus penerimaan negara dari sektor cukai dan pajak. Tetapi kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Di banyak daerah, industri rokok ilegal justru menjadi denyut ekonomi lokal. Ribuan buruh linting, pekerja pengemasan, hingga pedagang kecil menggantungkan hidup dari perputaran ini. Uang beredar di desa-desa, menghidupi pasar, dan menggerakkan roda perekonomian. Fakta ini tak bisa sekadar dihapus dengan jargon “berantas rokok ilegal”.
Akar masalahnya sesungguhnya terletak pada kebijakan pemerintah yang gemar menaikkan tarif cukai rokok tanpa jeda. Kenaikan yang ugal-ugalan itu menjerat pengusaha kecil, terutama UMKM rokok, yang dipaksa bersaing di arena yang jelas timpang dengan pabrikan besar. Alih-alih diberi ruang transisi atau skema perlindungan, rakyat kecil justru disambut dengan pendekatan represif: razia, penyitaan, dan ancaman hukum.
Dan di titik inilah persoalan Nur Faizin tampak jelas. Alih-alih mendorong pemerintah menghadirkan kebijakan yang adil dan berimbang, ia justru menempatkan dirinya di barisan “pembasmi”. Suaranya lantang, tetapi arahnya keliru memberi karpet merah pada kepentingan pabrikan besar, sekaligus menutup telinga dari jeritan pengusaha kecil yang semakin terhimpit.
Seorang wakil rakyat seharusnya hadir sebagai penengah: mendesak penindakan yang adil sekaligus memperjuangkan mekanisme perlindungan bagi UMKM rokok. Namun yang terlihat kini justru sebaliknya: kritik tanpa solusi, sikap tanpa empati, dan heroisme palsu yang pada akhirnya menjelma pengkhianatan terhadap rakyat yang diwakilinya.
Memberantas rokok ilegal tanpa solusi sama saja dengan memberantas rakyat kecil. Dan jika seorang wakil rakyat hanya berdiri tegak membela kepentingan kapital besar, jangan salahkan bila suatu hari rakyat pun berdiri tegak bukan untuk mendukung, melainkan untuk tidak lagi memilihnya. Sebab suara buruh linting, pedagang kecil, dan pengusaha desa jauh lebih nyaring daripada jargon kosong di ruang sidang dewan. (REDJAVA****)
Penulis : Rausi Samorono, S.H., M.H., M.M., Wakil Ketua Paguyuban Pengusaha Rokok Sumenep
Editor : REDJAVA











