JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Semangat Raden Ajeng Kartini kembali menemukan relevansinya di tengah dinamika pendidikan masa kini.
Bukan sekadar sosok historis, Kartini menjelma menjadi denyut nilai yang hidup dalam setiap proses belajar mengajar terutama di ruang-ruang kelas tempat masa depan bangsa ditumbuhkan.
Shahnaz Ezha Ferdiansyah, S.Pd, guru SDN Karangduak 1 Sumenep, menegaskan bahwa Kartini bukan hanya simbol emansipasi perempuan, melainkan representasi kesadaran tentang pentingnya pendidikan sebagai jalan pembebasan manusia.
“Kartini memahami bahwa pendidikan bukan sekadar proses mengetahui, tetapi proses menjadi menjadi manusia yang berpikir jernih, berempati, dan bertanggung jawab,” kata Shahnaz Ezha Fertiandany dalam refleksinya, Selasa (21/4/2026).
Menurut Shahnaz Ezha Fertiandany, nilai-nilai Kartini tidak pernah usang. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pemikiran Kartini justru menemukan konteks baru yang lebih mendalam.
Pendidikan, kata dia, bukan hanya aktivitas formal, melainkan perjalanan membangun manusia seutuhnya.
Ia menggambarkan, setiap huruf yang dipelajari anak dan setiap rasa ingin tahu yang tumbuh merupakan tanda kehidupan yang bergerak menuju cahaya yang lebih terang.
“Perubahan sejati tidak selalu lahir dari peristiwa besar, tetapi dari pertumbuhan batin yang perlahan dan konsisten. Di situlah pendidikan menemukan maknanya,” ujarnya.
Lebih jauh, Shahnaz Ezha Fertiandany menyoroti peran strategis guru sebagai aktor utama dalam menjaga proses pertumbuhan tersebut.
Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi penjaga harapan dan pembentuk arah masa depan generasi muda.
Dengan kesabaran dan ketulusan, guru diyakini mampu menumbuhkan kepercayaan diri anak sebuah fondasi penting bagi lahirnya generasi yang berdaya saing dan berkarakter.
“Ketika seorang anak percaya bahwa ia mampu belajar, sesungguhnya ia sedang membangun masa depannya sendiri. Di sanalah nilai Kartini hidup dan bekerja,” ungkap Shahnaz Ezha Fertiandany.
Momentum Hari Kartini, lanjutnya, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa masa depan harus ditumbuhkan melalui pendidikan yang memanusiakan manusia dengan kesabaran, ketekunan, dan keyakinan.
Di tengah derasnya arus perubahan, semangat Kartini tetap menemukan rumahnya: di ruang kelas, di tangan para guru, dan di hati setiap anak yang berani bermimpi.
Kartini mungkin telah lama tiada, namun nilai-nilainya terus hidup mengalir, mengakar, dan menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan yang lebih bermakna. (REDJAVA****)











