JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dentuman ritmis musik tongtong membelah malam, menggema di langit Pasongsongan.
Parade musik tradisional ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga perayaan budaya yang menegaskan bahwa kearifan lokal tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
Pelabuhan Pasongsongan, yang biasanya sunyi di malam hari, berubah menjadi pusat perayaan meriah pada Jumat (28/3/2025).
Ribuan pasang mata menyaksikan irama energik dari 12 grup musik tongtong unggulan yang tampil dengan penuh semangat.
Dari pukul 20.00 WIB hingga 01.25 WIB, festival ini menyajikan suguhan musikal yang menggugah jiwa, membangkitkan nostalgia, dan membius penonton dengan alunan khas Madura.
Acara bertajuk Gema Ramadhan ini mempertemukan para seniman musik tongtong terbaik di Kabupaten Sumenep.
Masing-masing grup diberi waktu 15 menit untuk menampilkan karya terbaik mereka, memastikan setiap dentuman drum dan tabuhan tongtong menggema dengan penuh makna.
Berikut adalah 12 grup yang memeriahkan malam spektakuler ini: Dewa Amor, Angin Ribut, Puser Angin, Bintang Kejora, Bagaspati, Lanceng Sarkaju, Poetra Djennengan, Telaga Biru, Pangeran Girpapas, Peccot Ngamox, Gelora Pesisir, dan Nawasena.
Setiap grup membawa ciri khasnya masing-masing, menciptakan variasi ritme yang semakin menghidupkan suasana.
“Kami ingin masyarakat tetap merasakan getaran budaya asli kita. Musik tongtong bukan sekadar seni pertunjukan, tapi juga identitas yang harus terus dijaga,” ujar Alimurrahman, usai kegiatan, Sabtu (29/03/2025).
Sorak sorai dan tepuk tangan menggema setiap kali grup baru tampil.
Masyarakat dari berbagai penjuru datang berbondong-bondong, memenuhi area pelabuhan demi menyaksikan parade musik yang kini telah menjadi agenda tahunan kebanggaan Pasongsongan.
“Luar biasa! Kami menikmati setiap detik pertunjukan ini. Semoga tahun depan bisa lebih meriah lagi,” ungkap seorang penonton yang datang bersama keluarganya dari kota Sumenep.
Seiring malam yang semakin larut, semangat tak juga surut. Para pemain musik tetap enerjik, sementara penonton masih enggan beranjak.
Ketika acara akhirnya ditutup pada pukul 01.25 WIB, tepuk tangan panjang mengiringi malam yang tak terlupakan ini.
“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini. Semoga tahun depan lebih banyak grup yang bisa tampil dan festival ini semakin dikenal luas,” ungkap Alimurrahman.
Parade Gema Ramadhan bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga bukti bahwa musik tongtong masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Di tengah arus globalisasi, mempertahankan tradisi adalah tantangan besar, tetapi semangat masyarakat Pasongsongan membuktikan bahwa akar budaya tidak akan mudah goyah.
Dengan semakin besarnya antusiasme, bukan tidak mungkin Gema Ramadhan akan berkembang menjadi festival musik tradisional tingkat nasional, mengundang lebih banyak peserta dan menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
“Semoga tahun depan, gema tongtong semakin luas terdengar, bukan hanya di Pasongsongan, tetapi hingga penjuru Nusantara,” pungkasnya. (REDJAVA****)










