JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sumenep, Dr. Moh. Zeinudin, menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar slogan, melainkan gerakan nyata yang telah menjadi napas perjuangan Muhammadiyah sejak awal kelahirannya.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber utama dalam seminar bertajuk “Moderasi Beragama dalam Perspektif Islam Wasathiyah”, yang digelar oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep, bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep pada Sabtu (24/05/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa lintas kampus, tokoh pemuda, serta perwakilan organisasi keagamaan yang antusias mendalami nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan antarumat beragama.
Dalam paparannya, Dr. Zein sapaan akrabnya menegaskan bahwa moderasi beragama harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan konkret kepada sesama manusia, tanpa memandang latar belakang agama, etnis, maupun status sosial.
“Moderasi beragama tidak cukup hanya dengan bersikap netral dalam konflik atau toleran secara lisan. Ia harus menjelma menjadi aksi nyata yang memberi manfaat bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.
Ia mencontohkan kiprah Muhammadiyah dalam membangun sekolah, rumah sakit, hingga perguruan tinggi yang terbuka untuk semua kalangan.
Bahkan di kawasan timur Indonesia, seperti di Universitas Muhammadiyah Sorong, Universitas Muhammadiyah Papua, dan Universitas Muhammadiyah Kendari, lebih dari 80 persen mahasiswanya merupakan non-Muslim. Fenomena ini melahirkan istilah “KrisMuha” atau Kristen Muhammadiyah, sebagai simbol kedekatan emosional dan spiritual antara umat Kristiani dengan institusi Muhammadiyah.
“Ini bukan bentuk sinkretisme, tapi cermin dari Islam yang melayani, yang memeluk semua, dan tidak diskriminatif,” jelas dosen Fakultas Hukum Universitas Wiraraja tersebut.
Dr. Zein juga mengajak mahasiswa, khususnya kader PMII, untuk menjadi agen utama dalam menyebarkan nilai-nilai Islam wasathiyah.
“Moderasi beragama bukan proyek pemerintah atau agenda kelompok tertentu. Ini misi keumatan yang harus diperjuangkan oleh seluruh anak bangsa. Jangan hanya berhenti pada seminar, tapi mari bergerak bersama. Bekerja nyata. Memberi manfaat,” pungkasnya. (REDJAVA****)










