Dik-Dik Binatang Kerdil

Minggu, 21 Januari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana Kebersamaan Antara Ketua APSI Jatim Sulaisi Abdurrazaq dan Aktifis Sumenep Fauzi

Suasana Kebersamaan Antara Ketua APSI Jatim Sulaisi Abdurrazaq dan Aktifis Sumenep Fauzi

Dik-Dik Binatang Kerdil

Oleh : Sulaisi Abdurrazaq

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Selain penjahat, pemeras, penipu, penghisap sabu-sabu, bajingan Dikdik ternyata binatang buas, juga makelar PNS.

Amatilah, bagaimana Pak Sugik diterkam, seperti serigala mencabik domba tua di tengah gulita belantara.

Dikdik lupa, ceceran darah pasti tersisa pada ilalang yang akan terang begitu fajar berpijar.

Penjahat tak pernah menyangka, kilauan cahaya mentari akan bertutur tentang kejahatan itu pada semua orang.

Dikdik, kamu keliru, menghajar Penasehat Hukum Pak Sugik. Ia tak pernah memukulmu, tapi kau serang integritasnya, seolah ia anak kecil dengan dosa tak berampun.

Begitu fiksi “Dikdik Sang Penjahat” menyeringai dunia maya, LP tipu-gelap berseluncur, penjahat merengek-rengek, mencari orang yang senang menulis dongeng.

Ia berharap bisa obati hati yang menyimpan luka, mengemis iba dan belas kasihan teman-temannya. Dikdik seperti terjerat prahara, terjebak perangkap permainan Kang Mus.

Baca Juga :  Aliansi Wartawan Pamekasan (AWP) Bersama Puluhan Jurnalis Yang Tergabung Ikuti Aksi Solidaritas Jurnalis Di Mapolda Jatim

Pak Sugik, memang tak banyak bicara, tapi ia menyimpan rahasia siang dan malam. Jika tak bertobat, Dikdik pasti mendapat balasan berlipat ganda.

Dikdik menggigil, dipanggil Polri untuk diperiksa bersama Kang Mus. Nyalinya kerdil. Tak sanggup membendung gelegar dadanya yang dirasuki ketakutan.

Ia tak hadir, tak memberi rasa hormat pada penegakan hukum.

Tak disangka, Dikdik yang telah lama punya mimpi, menyeret Pak Sugik ke balik jeruji, karena menagih duit kembali, ternyata waktu turut menggilasnya.

Padahal, mimpi tak pernah takut pada gelap malam yang kesepian.

Suatu sore, ketika siluet mengiringi mentari ke balik selimut malam, Dikdik terdiam dalam bisu. Ia takut dicampakkan ke ruang tahanan yang paling gulita.

Baca Juga :  Pimpin Upacara 17an Bulan September, Kasdim Bacakan Amanat Pangdam V/Brawijaya

Untuk menghindari panggilan polisi, ia bilang akan berkoordinasi dengan OA tempat ia bernaung. Padahal, penipuan dan/atau penggelapan yang ia lakukan terjadi tahun 2013. Jauh sebelum Dikdik menjadi peng-acara.

Kejahatan Dikdik tak ada korelasi dengan tugas profesi.

Jika dibikin contoh lebih telanjang, apabila ada peng-acara kedapatan menghisap sabu-sabu, untuk menangkapnya, APH tak perlu izin OA. Karena perbuatannya tak berkorelasi dengan tugas profesi.

Dikdik tak buas lagi, ia seperti binatang kerdil yang bersembunyi di balik semak-semak.

Ada cermin di pojok ruang tamu Kang Mus, Dikdik memperhatikan wajahnya, mengingat-ngingat masa lalunya.

Dirinya punya kemampuan berlari yang relatif cepat dan cukup unik, polanya zig-zag.

Dalam suasana temaram, dirinya sadar bahwa tiap kali merasa terancam, selalu membuat suara melalui hidung, seperti menghirup sabu.

Baca Juga :  Terminal Arya Wiraraja, Penumpang Bus Meningkat Jelang H-1 Ramadhan

Tapi kok terasa aneh, suara dengan hidung terdengar seperti kata “Dik-Dik”.

Setelah memperhatikan dirinya dalam-dalam depan cermin, dalam keadaan sadar, Dikdik tiba-tiba tertawa, terpingkal-pingkal, seperti orang gila.

Ia tak tahan terbahak-bahak, karena ternyata dirinya sama persis dengan Dik-Dik, binatang kerdil jenis antelop yang pemalu dan suka bersembunyi di semak-semak.

Dik-dik punya dua tanduk dan dua telinga runcing, empat kuku, hidung panjang, dan mata cokelat yang besar.

Dik-Dik menggunakan hidung lebih dari sekedar indera penciuman, tapi juga untuk mengambil sesuatu atau tumbuhan ketika makan.

Kalau sedang terancam, hidungnya berbunyi: “Dik-Dik”.

Tak ku sangka, itulah Dikdik yang sesungguhnya. Gagal buas (REDJAVA****)

Berita Terkait

Pilkades Sumenep 2027: Achmad Farid Azzyadi Jadi Figur yang Mulai Diperhitungkan di Payudan Dundang
Hadapi Musim Kemarau 2026, Bupati Achmad Fauzi Resmi Berlakukan Siaga Darurat Kekeringan
Bakesbangpol Sumenep Apresiasi Aksi Sosial PPI dan BAZNAS di Desa Ellak Daya
Danyonif TP 931/KJ Hadiri Peresmian Jembatan Perintis Garuda di Ambunten, Perkuat Sinergi TNI dan Masyarakat
89 Hari Rampung, Danrem Bhaskara Jaya Resmikan Jembatan Perintis Garuda di Ambunten Sumenep
Program Nasi Bungturat KBS Sumenep, Wujud Kepedulian Lewat Jum’at Berkah
Pertemuan Rutin DWP Bappeda Sumenep Disulap Jadi Ajang Pengembangan Kreativitas Anggota
Bersihkan dari Halinar, Rutan Sumenep Geledah Kamar dan Tes Urine Warga Binaan

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 22:26 WIB

Pilkades Sumenep 2027: Achmad Farid Azzyadi Jadi Figur yang Mulai Diperhitungkan di Payudan Dundang

Jumat, 3 Juli 2026 - 21:56 WIB

Hadapi Musim Kemarau 2026, Bupati Achmad Fauzi Resmi Berlakukan Siaga Darurat Kekeringan

Jumat, 3 Juli 2026 - 20:34 WIB

Bakesbangpol Sumenep Apresiasi Aksi Sosial PPI dan BAZNAS di Desa Ellak Daya

Jumat, 3 Juli 2026 - 18:13 WIB

Danyonif TP 931/KJ Hadiri Peresmian Jembatan Perintis Garuda di Ambunten, Perkuat Sinergi TNI dan Masyarakat

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:42 WIB

89 Hari Rampung, Danrem Bhaskara Jaya Resmikan Jembatan Perintis Garuda di Ambunten Sumenep

Berita Terbaru