JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Penguatan budaya literasi di kalangan pelajar terus menjadi fokus serius Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep (Dispusip).
Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi bersama mahasiswa Universitas Wiraraja (Unija) dalam kegiatan Safari Sekolah bertajuk Bedah Buku dan Sosialisasi Lomba di SMAN 2 Sumenep, Jumat (24/04/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem literasi yang tidak hanya menumbuhkan minat baca, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir kritis serta produktivitas karya di kalangan generasi muda.
Sebanyak 17 mahasiswa Himpunan Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Unija bersama tiga delegasi panitia terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan sesi bedah buku yang berlangsung interaktif antara mahasiswa dan siswa.
Dalam sesi ini, peserta tidak hanya diajak membaca, tetapi juga memahami isi buku secara lebih mendalam mulai dari menggali nilai, pesan, hingga relevansinya dengan kehidupan sosial.
Diskusi yang hidup menjadi bukti bahwa pendekatan literasi yang komunikatif mampu menarik minat pelajar.

Pustakawan Ahli Muda Dispusip Sumenep, Drs. Syaiful Bahri, menegaskan bahwa literasi harus terus berkembang secara progresif.
“Literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca saja, tetapi harus mampu melahirkan pemikiran kritis dan karya nyata. Kegiatan seperti Safari Sekolah ini menjadi contoh konkret bagaimana literasi bisa dihidupkan secara kontekstual di lingkungan pelajar,” ujarnya di sela kegiatan.
Setelah sesi bedah buku, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi lomba cipta puisi dan orasi dalam program Ekspresi Berkarya.

Program ini menjadi ruang bagi siswa untuk menyalurkan ide, gagasan, serta kreativitas dalam bentuk karya yang konstruktif.
Menurut Syaiful Bahri, ruang ekspresi menjadi elemen penting dalam membangun kepercayaan diri sekaligus memperkuat budaya literasi produktif di kalangan pelajar.
“Ketika siswa diberi ruang untuk berkarya, mereka tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga pencipta. Inilah esensi literasi yang ingin terus kita dorong,” tambah Drs. Syaiful Bahri.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab.
Keterlibatan aktif siswa menjadi indikator bahwa kegiatan ini mampu menciptakan suasana belajar yang inspiratif dan membangun.
“Kamis berharap kegiatan serupa dapat terus diperluas melalui kolaborasi lintas sektor agar gerakan literasi tidak berhenti sebagai program semata, melainkan menjadi budaya yang mengakar di lingkungan pendidikan,” pungkasnya.
Dengan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sekolah, Sumenep optimistis mampu melahirkan generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman. (REDJAVA****)












