JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Bencana puting beliung yang menerjang Desa Karduluk, Kabupaten Sumenep, menyisakan kerusakan fisik sekaligus luka psikologis, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar. Sejumlah bangunan rusak, aktivitas belajar terganggu, dan warga dipaksa bangkit dari situasi darurat.
Di tengah kondisi tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumenep bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep bergerak cepat menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada siswa sekolah dasar yang terdampak, Kamis (5/2/2026).
Bantuan difokuskan untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan dukungan, baik secara moril maupun materil, agar proses pendidikan tidak terhenti meski berada dalam situasi pascabencana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Baznas Kabupaten Sumenep, Akhmad Rahman, menegaskan bahwa anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana, karena merekalah kelompok paling rentan terdampak.
“Bencana tidak boleh menghentikan masa depan anak-anak. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan mereka tetap merasa aman, diperhatikan, dan memiliki semangat untuk terus belajar,” ujar Akhmad Rahman.
Ia menambahkan, kehadiran Baznas bukan hanya sebatas penyaluran bantuan, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial untuk hadir di tengah masyarakat pada saat-saat krisis.
Sementara itu, Ketua DWP Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Dewi Amborowati, menyatakan bahwa keterlibatan DWP Disdik merupakan wujud empati terhadap dunia pendidikan yang kerap terdampak langsung ketika bencana terjadi.
“Anak-anak adalah harapan masa depan. Ketika mereka terdampak bencana, kita semua punya kewajiban moral untuk hadir, mendampingi, dan menguatkan agar semangat belajar mereka tidak padam,” kata Dewi.
Dari pihak sekolah, Kepala SDN IV Karduluk, Widayanti, mengungkapkan bahwa bencana tersebut sempat membuat proses belajar mengajar terhambat. Namun, bantuan yang datang memberikan harapan baru bagi para siswa.
“Kami sangat mengapresiasi kepedulian Baznas dan DWP Disdik. Bantuan ini bukan hanya meringankan beban, tetapi juga menjadi penyemangat bagi anak-anak untuk kembali bangkit,” ungkap Widayanti.
Kolaborasi lintas lembaga ini menjadi gambaran kuat bagaimana solidaritas sosial bekerja di saat krisis.
Di tengah puing-puing pascabencana, kepedulian hadir sebagai energi pemulih menjaga agar hak pendidikan anak-anak Sumenep tetap berjalan, meski alam sempat menguji ketangguhan mereka. (REDJAVA/$$$)









