Cerita Sukses Ketua IPARI Sumenep Bertani secara Organik, Biaya Sedikit Tapi Raih Untung Besar

- Redaksi

Selasa, 21 Mei 2024 - 21:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ASN di Kemenag Sumenep Halili Sukses Bertani

ASN di Kemenag Sumenep Halili Sukses Bertani

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Seorang petani di Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, sukses memelopori pertanian organik, yakni teknik budidaya pertanian yang berorientasi pada pemanfaatan bahan-bahan alami (lokal) tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintesis seperti pupuk dan pestisida.

Meski berprofesi sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Moh. Halili (48) juga gemar bertani bersama istrinya, Luthfaturrahmah.

“Bapak dan ibu saya petani. Meski saya seorang ASN, tapi saya tidak bisa lepas dari dunia pertanian yang telah mengajari saya banyak hal untuk bertahan hidup saat tinggal di Pulau Giliraja,” ujar pria yang akrab dipanggil Halili ini, Selasa (21/05/2024).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Halili menuturkan bahwa dirinya menanam kacang tanah yang dikelola secara organik. “Tanpa pupuk kimia bikinan pabrik, cuma menggunakan abu sampah dicampur kotoran ternak,” imbuhnya.

Baca Juga :  Potong Pita Bunga Tandai Pelepasan Ekspor Perdana Bawang Varietas Rubaru ke Belanda oleh Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo

Meski demikian, hasil tanaman kacang tanah miliknya tidak kalah dengan para tetangganya yang menggunakan pupuk kimia atau pabrikan.

“Kemarin saya panen kacang tanah di lahan seluas 1.200 meter persegi. Biaya bibit dan biaya produksi sekitar Rp1.481.000, hasil penjualan Rp4.550.000, keuntungan sekitar Rp3.069.000. Alhamdulillah ada laba bersih yang cukup signifikan,” terangnya.

Pria yang saat ini menjabat Ketua Ikatan Penyuluh Agama Islam Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sumenep mengungkapkan, pihaknya menolak bahan kimia di lahan pertaniannya berawal dari timbulnya kesadaran akan dampak negatif bahan kimia bagi tanaman pada 2010 lalu.

Menurut pria, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep ini, perilaku penggunaan bahan kimia terhadap tanaman diyakini turut menyumbang munculnya beragam penyakit bagi masyarakat yang mengonsumsi tanaman tersebut. “Ini yang jarang diketahui dan tidak disadari oleh para petani kita,” paparnya.

Baca Juga :  Kapolres Sumenep Tinjau Ketersediaan Pupuk Bersubsidi di Bluto, Dukung Program Swasembada Pangan

Salah satu contohnya, beber Halili, adalah kacang tanah. Bagi pengidap asam urat dan kolesterol, komoditas ini dianggap musuh dan harus dijauhi.

“Hal ini didukung teori kedokteran yang memasukkan kacang tanah menjadi salah satu jenis makanan yang tak boleh dikonsumsi bagi penderita penyakit tertentu,” sambung pria asal Pulau Giliraja ini.

Namun, teori tersebut tak berlaku untuk Halili. Di tengah usianya yang hampir memasuki setengah abad ini, dia justru tidak absen menyantap kacang tanah yang diperoleh dari lahan yang terletak di Desa Karangcempaka, Kecamatan Bluto.

“Alhamdulillah, sampai saat ini asam urat dan kolesterol saya normal, tentu saja disertai dengan doa dan olahraga yang cukup,” imbuhnya.

Baca Juga :  Viral Truk Oleng di Jalan Raya, Sopir Asal Pamekasan Akhirnya Diamankan Polres Sumenep

Halili berharap kepada para petani di sekitarnya dan masyarakat Sumenep agar tidak memiliki ketergantungan terhadap pupuk kimia atau bahan pestisida lainnya.

Selain perlahan bisa mengembalikan kesehatan tanah dari unsur pestisida atau kimia, hasil pertanian juga terjamin lebih sehat karena tidak terkontaminasi oleh bahan kimia hasil pabrik.

“Ini juga menjaga warisan para leluhur kita yang bertani secara alami serta lebih sehat. Dan yang tak kalah penting juga adalah menghemat biaya,” pungkasnya sambil tersenyum.

Selain bertani kacang tanah, Halili juga memiliki kebun pisang di Desa Palongan dan beberapa lahan pertanian lainnya di Dusun Pongkeng, Desa Aengbaja Raja. Semuanya dikelola secara alami tanpa bahan kimia hasil pabrik. (REDJAVA****)

Follow WhatsApp Channel javanetwork.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

BERITA TERKAIT

Polresta Sumenep Raih Pelayanan Prima A, Bukti Nyata Komitmen Layani Masyarakat
Siswa MAN Sumenep Unjuk Gigi di Ajang Provinsi, Mini Drama Angkat Moderasi Beragama dan Budaya Lokal
Atlet Muda Sumenep Cetak Prestasi di Lamongan, Ketua PBSI: Semoga Jadi Semangat Atlet Lain
Rangkaian Mubes BEM-KM STAIM, Debat Kandidat Bongkar Strategi Membangun Organisasi Progresif
Jambore Kwarran Dasuk 2026 Digelar, 509 Pramuka Merajut Kebersamaan Menuju Indonesia Emas
BMPD Sumenep Kalah 3-2, Hairil Fajar: Kebersamaan Jadi Kemenangan Sesungguhnya
Poppy Popper Pecah di Bapenda Sumenep, Semarak HUT RI ke-81 Penuh Kebersamaan
HUT RI Ke-81, Pemkab Sumenep Berikan Insentif Fiskal 81 Persen Ringankan Piutang PBB-P2 Warga

BERITA TERKAIT

Jumat, 14 Agustus 2026 - 22:34 WIB

Polresta Sumenep Raih Pelayanan Prima A, Bukti Nyata Komitmen Layani Masyarakat

Jumat, 14 Agustus 2026 - 22:07 WIB

Siswa MAN Sumenep Unjuk Gigi di Ajang Provinsi, Mini Drama Angkat Moderasi Beragama dan Budaya Lokal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 21:51 WIB

Atlet Muda Sumenep Cetak Prestasi di Lamongan, Ketua PBSI: Semoga Jadi Semangat Atlet Lain

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Rangkaian Mubes BEM-KM STAIM, Debat Kandidat Bongkar Strategi Membangun Organisasi Progresif

Jumat, 14 Agustus 2026 - 16:29 WIB

Jambore Kwarran Dasuk 2026 Digelar, 509 Pramuka Merajut Kebersamaan Menuju Indonesia Emas

BERITA TERBARU