JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dari gulungan ombak di Laut Masalembu, sebuah kisah kepahlawanan muncul bukan dari aparat, bukan dari elit kota, tetapi dari tangan kasar nelayan yang sehari-hari bergumul dengan gelombang dan badai. Empat orang nelayan sederhana telah menjadi garda terdepan dalam perang melawan narkotika.
Mereka adalah Sirat (60), Naim (30), Fadil (25), dan Mastur (40) nelayan asal Desa Sukajeruk, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep. Saat sedang melaut, sekitar empat mil dari garis pantai, mereka menemukan sebuah drum besi terapung mencurigakan. Tatkala dibuka, isinya membuat mereka terperanjat: puluhan bungkus kristal putih sabu-sabu seberat 35 kilogram.
Alih-alih diam atau tergoda oleh nilainya yang miliaran rupiah, para nelayan ini memilih jalan yang mulia. Mereka langsung melapor ke pihak berwenang, tanpa ragu, tanpa syarat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah cepat mereka membuat aparat gabungan TNI-Polri segera mengamankan barang bukti, membawanya ke Polres Sumenep, dan selanjutnya diserahkan ke Ditresnarkoba Polda Jawa Timur. Beberapa hari setelahnya, tim dari Ditresnarkoba Polda Jatim turun langsung ke Masalembu untuk melakukan penyisiran. Hasilnya, 17 bungkus tambahan sabu kembali ditemukan memperkuat dugaan bahwa kawasan perairan terpencil ini telah menjadi jalur perlintasan narkoba jaringan internasional.
Tindakan cepat dan jujur para nelayan itu mendapat perhatian serius dari Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo. Dalam pernyataannya, Kamis (5/6/2025), Bupati menyampaikan rasa salut sekaligus keprihatinannya.
“Kita patut bangga. Begitu menemukan, para nelayan ini langsung melapor. Ini bukan hal sepele, ini tindakan yang menyelamatkan generasi. Yang mengkhawatirkan adalah ketika temuan seperti itu malah disembunyikan atau disalahgunakan,” ujarnya.
Sebagai bentuk penghargaan atas kepedulian dan keberanian mereka, Bupati memastikan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumenep akan memberikan penghargaan khusus kepada para nelayan tersebut.
“Mereka adalah pahlawan keamanan dari laut. Tentu akan kita beri penghargaan,” tegas sosok orang nomer satu di lingkungan Pemkab Sumenep itu.
Temuan sabu dalam jumlah besar ini menandai potensi bahaya baru: wilayah laut Masalembu yang terpencil namun strategis, kini mulai disorot sebagai celah baru dalam jaringan peredaran narkotika. Ditresnarkoba Polda Jatim tengah mendalami indikasi bahwa jalur laut ini digunakan oleh sindikat internasional sebagai lintasan “sunyi” untuk menyelundupkan barang haram ke Indonesia.
Di tengah krisis moral dan maraknya penyalahgunaan narkoba, kisah para nelayan ini hadir sebagai pelajaran dan pengingat bahwa moralitas tidak selalu datang dari pendidikan tinggi atau jabatan mentereng tapi bisa tumbuh dari nurani yang jujur, bahkan di tengah lautan.
Dengan langkah tegas Pemkab Sumenep dan perhatian dari kepolisian, peristiwa ini tidak hanya akan tercatat sebagai penggagalan besar peredaran sabu, tapi juga menjadi momentum membangun kesadaran kolektif: bahwa menjaga negeri dari bahaya narkotika bisa dimulai dari satu keputusan sederhana berani melapor.
“Kita tidak bisa memilih di mana ancaman itu muncul, tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menyikapinya. Nelayan-nelayan Masalembu sudah memberi contoh: bahwa keberanian dan kejujuran adalah benteng pertama dalam menjaga negeri ini dari kehancuran,” pungkasnya. (REDJAVA***)









