JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Malam itu, langit Saronggi seakan bersekutu dengan bumi. Kamis malam, 26 Juni 2025, ratusan cahaya kecil dari lentera, lampu senter, dan obor jamaah menyala perlahan, membentuk garis hidup menuju sebuah tempat yang dulu tak pernah dibayangkan akan menjadi arena dzikir dan sholawat.
Di sanalah, di jantung bekas lokalisasi Batu Ampar, kini berdiri sebuah bangunan sederhana namun agung dalam makna: Mandhâpa Agung Bato Ampar.
Di sinilah saksi sejarah dibalik pergeseran besar yang sangat jarang terjadi di zaman ini: dari tempat maksiat menjadi panggung suci bagi suara langit. Tak ada lagi gemerlap gelap masa lalu. Tak ada lagi sunyi yang menyesakkan. Yang tersisa kini hanyalah gema cinta kepada Ilahi, dilantunkan dalam bait-bait sholawat dan dzikir para jamaah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dahulu, Batu Ampar dikenal sebagai titik hitam dalam peta sosial Kabupaten Sumenep. Lokalisasi ini hidup dalam bayang-bayang stigma, menyimpan ribuan cerita luka dan air mata. Namun tiga tahun silam, sebuah kesadaran lahir dari keberanian.
Pemilik lahan, dengan keikhlasan yang tak bisa diukur oleh hitungan duniawi, menutup seluruh kegiatan dan menghibahkan lahan seluas itu demi tujuan yang jauh lebih tinggi: pengabdian kepada agama dan masyarakat.
Lahan itu kini telah diserahkan kepada ulama kharismatik KH. Busyro Karim dari Beraji. Dan dalam amanah besar yang tak semua orang sanggup memikulnya, KH. Busyro mempercayakan pengelolaannya kepada salah satu murid spiritualnya, K.R. Arya Mohammad Rusli.
Rusli bukan sekadar pengelola. Ia adalah sosok yang menyerahkan hidupnya untuk menjaga nyala cahaya di tempat yang pernah gelap gulita. Dalam sambutannya malam itu, suaranya berat menahan haru.
“Saya bukan siapa-siapa, hanya hamba yang diberi amanah besar. Tapi saya yakin, ketika Allah menghendaki tempat ini menjadi ladang kebaikan, maka tak ada kekuatan yang bisa menghalanginya,” ujar Rusli, matanya berkaca-kaca di hadapan para jamaah,” ujarnya.
Ia melanjutkan dengan suara yang sedikit gemetar:
“Mohon doanya. Saya dan rekan-rekan bukan orang sempurna. Tapi kami ingin mewakafkan hidup kami agar tempat ini bukan sekadar berubah bangunannya, tapi juga takdirnya. Dari tanah dosa menjadi tanah doa. Dari luka menjadi pelita.” sambungnya.
Dalam rancangannya, lahan Batu Ampar akan dibangun Masjid Al Karimiyyah, ruang-ruang dakwah, asrama santri, taman ilmu, dan pusat pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai Islam.
Namun Rusli sadar, membangun gedung hanyalah permulaan.
“Yang paling sulit adalah membangun kesadaran, merawat semangat, dan menjaga ruh dakwah tetap hidup. Kita ingin tempat ini hidup, berdenyut setiap hari oleh sholawat, tadarus, ziarah, dan pembelajaran,” ucapnya lagi.
Dzikir dan sholawat malam itu tidak sekadar ritual. Ia menjadi momen katarsis bagi ratusan orang yang hadir. Banyak yang tak bisa menahan tangis, ketika ayat-ayat suci dibacakan di tanah yang dulunya menjadi tempat pelarian dari Tuhan.
Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama, di antaranya Kiai Sufyanussauri dari Barangbang Kalianget, Kiai Abdullah selaku Takmir Masjid Nurul Iman Saronggi, serta rombongan dari Al Karimiyyah Beraji. Gus Azmi, menantu KH. Busyro Karim, juga hadir dan memberikan pesan kuat:
“Transformasi tempat ini belum selesai. Setelah masjid dan lembaga berdiri, kita harus mengisinya. Tempat ini akan hidup hanya jika kita semua ikut menyiraminya dengan dzikir, ilmu, dan cinta.” ujarnya.
Kesuksesan acara ini tak bisa dilepaskan dari kerja tulus panitia. Nama-nama seperti Ustadz Adi Yono, Ustadz Masrul, Pak Ali, Mas Yayan, Bang Miftahol, Cak Andiyanto, dan banyak lainnya bukan hanya bekerja, tetapi menginfakkan waktu dan tenaga mereka dengan semangat jihad sosial.
Para warga sekitar pun mulai membuka diri. Tak sedikit dari mereka yang dahulu skeptis, kini justru menjadi penyokong utama pembangunan.
Apa yang terjadi di Batu Ampar adalah contoh langka: sebuah wilayah yang pernah diselimuti stigma kini membuka jalan sebagai pusat peradaban Islam yang ramah dan membebaskan. Ia bukan sekadar cerita lokal, tapi bisa menjadi inspirasi nasional.
Malam itu, Batu Ampar menyalakan lentera besar di tengah gelap zaman. Lentera yang tidak hanya menyoroti masa lalu, tapi menerangi masa depan.
Kini, dzikir menggantikan derita. Sholawat menggantikan stigma. Batu Ampar tak lagi diselimuti duka. Ia telah menjelma menjadi tanah barokah tempat di mana cahaya dipelihara, dan harapan ditanam untuk generasi yang akan datang. (REDJAVA****)









