JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) terus mendorong transformasi digital di sektor ekonomi lokal.
Bersinergi dengan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) serta Bank Indonesia (BI), Bapenda menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas percepatan adopsi digital, khususnya di pasar tradisional, sekolah, hingga layanan publik seperti rumah sakit.
Bertempat di Aula Rapat Kantor Bapenda di Jalan Dr. Cipto No. 1, Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan guna membahas strategi pengembangan ekonomi berbasis digital.
Salah satu fokus utama adalah implementasi pembayaran digital melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang telah menjadi bagian dari kebijakan nasional dalam meningkatkan efisiensi transaksi serta memperluas inklusi keuangan.
Perwakilan BI Jawa Timur, Imam, menegaskan bahwa digitalisasi di pasar tradisional menjadi prioritas karena sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat.
“Pasar tradisional memiliki peran vital dalam pergerakan ekonomi daerah. Dengan digitalisasi, transaksi menjadi lebih mudah, aman, serta mengurangi risiko peredaran uang palsu,” ujar Imam dalam forum tersebut.
Kabid Perdagangan Diskoperindag Kabupaten Sumenep, Idham Kholid, menambahkan bahwa Taman Tajamara menjadi salah satu contoh lokasi yang telah menerapkan sistem pembayaran digital.
Dari 52 stan yang beroperasi setiap sore, sekitar 80 persen pedagang sudah menggunakan QRIS dalam transaksi harian mereka.
“Ini menunjukkan bahwa kesadaran digital di kalangan pelaku usaha mulai meningkat,” ungkapnya.
Sementara itu, tantangan digitalisasi masih terasa di kawasan Taman Bunga, tempat lebih dari 270 pedagang kaki lima (PKL) aktif berjualan setiap Minggu pagi.
Saat ini, baru sekitar 20 persen dari mereka yang mengadopsi pembayaran digital.
“Kami terus berupaya memperluas sosialisasi agar semakin banyak pedagang yang beralih ke metode pembayaran nontunai,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pendataan Bapenda Sumenep, Suhermanto, memperkenalkan program inovatif bertajuk Festival Literasi Digital (VIRAL) Sumenep.
Program ini bertujuan untuk mempercepat transformasi digital di berbagai sektor, termasuk pasar-pasar tradisional seperti Pasar Anom dan kawasan PKL di Taman Bunga.
Menurut Suhermanto, digitalisasi ini juga diharapkan mampu meningkatkan transparansi pendapatan bagi para pelaku usaha kecil serta memberikan kemudahan bagi pemerintah daerah dalam memantau perputaran ekonomi di sektor informal.
“Dengan semakin banyaknya pedagang yang menggunakan transaksi digital, kita bisa mendapatkan data yang lebih akurat mengenai arus kas dan potensi pendapatan daerah,” jelasnya.
Selain sektor pasar tradisional, FGD ini juga membahas kemungkinan penerapan sistem digital di sekolah-sekolah untuk pembayaran uang sekolah, kantin, dan kebutuhan lainnya.
“Implementasi serupa, insyaallah juga direncanakan untuk rumah sakit guna mempermudah proses pembayaran pasien dan meningkatkan efisiensi layanan kesehatan,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Sumenep berkomitmen untuk terus mempercepat digitalisasi ekonomi guna meningkatkan daya saing pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
Dengan ekosistem transaksi yang lebih modern, diharapkan pertumbuhan ekonomi daerah semakin pesat dan inklusif di era digital yang terus berkembang.
FGD ini juga menjadi momentum bagi pelaku usaha lokal untuk berdiskusi langsung dengan pihak perbankan serta regulator guna memahami manfaat dan tantangan dalam penerapan sistem pembayaran digital.
“Dengan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat pun akan terus dilakukan agar transformasi ini dapat berjalan dengan maksimal dan memberikan dampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (REDJAVA****)










