Haflatul Imtihan Annuqayah 2026 Perkuat Sanad Keilmuan Melalui Bedah Buku The Qur’anything

Sabtu, 4 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bedah Buku The Qur'anything Semarakkan Haflatul Imtihan Annuqayah 2026, Kiai Ismail: Al-Qur'an Harus Hidup dalam Realitas Umat

Bedah Buku The Qur'anything Semarakkan Haflatul Imtihan Annuqayah 2026, Kiai Ismail: Al-Qur'an Harus Hidup dalam Realitas Umat

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah (HIMA) Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tahun 2026 menghadirkan wajah berbeda. Tidak hanya menjadi penanda berakhirnya proses belajar mengajar, agenda tahunan pesantren tersebut juga diperkaya dengan bedah buku The Qur’anything: Anonymous of The Cave karya KH Muhammad Ismail Yahya Al-Ascholy sebagai upaya memperkuat tradisi literasi dan intelektual di lingkungan pesantren.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Asy-Syarqawi dihadiri ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa, santri putra dan putri dari berbagai jenjang pendidikan, para kiai, serta dosen di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir forum yang mengulas cara memahami Al-Qur’an dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pengurus Yayasan Annuqayah, KH Ainul Haq, menegaskan bahwa tradisi akademik seperti bedah buku menjadi bagian penting dalam menjaga warisan keilmuan pesantren. Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga menjaga kesinambungan sanad keilmuan antara guru dan murid.

“Tujuan kita menghadirkan guru-guru kita adalah agar para santri memiliki sambungan sanad kepada guru-guru mereka. Itulah yang menjadi kekuatan utama tradisi pesantren,” ujar KH Ainul Haq.

Sesi bedah buku dipandu Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Universitas Annuqayah, Abd. Mun’iem. Sementara itu, KH Muhammad Al-Mubassyyir bertindak sebagai pembanding yang mengulas isi dan pendekatan penulisan buku tersebut.

Baca Juga :  Beri Pemahaman Tata Cara Pemeliharaan kepada Masyarakat, Cara Dispersip Sumenep Jaga dan Rawat Naskah Kuno

Menurut KH Muhammad Al-Mubassyyir, The Qur’anything: Anonymous of The Cave menawarkan cara pandang yang berbeda dalam membaca Al-Qur’an. Buku itu menjadi jembatan yang mempertemukan pesan-pesan Al-Qur’an dengan dinamika kehidupan modern tanpa kehilangan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya.

Ia menjelaskan, KH Muhammad Ismail Yahya Al-Ascholy berhasil menghadirkan bahasa yang ringan, komunikatif, dan mudah dipahami sehingga pembaca tidak merasa sedang membaca buku tafsir yang rumit. Sebaliknya, pembaca diajak berdialog secara akrab dengan ayat-ayat Al-Qur’an melalui refleksi yang relevan dengan realitas kehidupan.

Baca Juga :  Hari Bumi 2026: GEN Jatim Dorong Aksi Nyata, Ingatkan Ancaman Krisis Lingkungan Global

Penulis buku, KH Muhammad Ismail Yahya Al-Ascholy, menjelaskan bahwa The Qur’anything: Anonymous of The Cave merupakan kelanjutan dari karya sebelumnya, The Qur’anything: Sepuluh Surat dari Tuhan. Kali ini, ia memilih pendekatan yang lebih ringkas, lebih tajam, dan langsung mengajak pembaca masuk pada inti pesan setiap ayat.

“Buku ini menjadi jejak intelektual sekaligus spiritual dari sebuah perjalanan panjang bersama Al-Qur’an. Bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan, diulang, dan dihidupkan,” kata Kiai Ismail.

Ia menuturkan, setiap halaman dalam buku tersebut disusun agar pembaca tidak berhenti pada pemahaman tekstual semata, melainkan mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.

Baca Juga :  Hujan Deras Picu Longsor di Sumenep, Polisi–TNI–Warga Bahu-Membahu Buka Jalan Terisolasi

Pada bagian akhir pemaparannya, Kiai Ismail mengajak umat Islam melihat tantangan zaman secara lebih kritis. Menurutnya, pesan membaca Surat Al-Kahfi bukan sekadar menjadi pelindung dari fitnah Dajjal, tetapi juga menjadi pengingat terhadap berbagai bentuk fitnah yang kini hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mencontohkan kemunculan ulama su’, fenomena gus-gusan, derasnya arus konten digital yang dapat melemahkan akidah dan kesalehan, kecintaan terhadap dunia yang melupakan akhirat, hingga lunturnya penghormatan kepada orang tua dan guru sebagai tantangan nyata yang harus dihadapi umat Islam.

Melalui forum bedah buku tersebut, Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah 2026 tidak hanya menjadi perayaan akademik, tetapi juga mempertegas posisi Pondok Pesantren Annuqayah sebagai ruang tumbuhnya tradisi literasi, penguatan intelektual, dan pengkajian Al-Qur’an yang terus relevan menjawab tantangan zaman.

Berita Terkait

Kurve di Mako Polres Sumenep, Bangun Semangat Gotong Royong dan Kepedulian Lingkungan
Pilkades Sumenep 2027: Achmad Farid Azzyadi Jadi Figur yang Mulai Diperhitungkan di Payudan Dundang
Hadapi Musim Kemarau 2026, Bupati Achmad Fauzi Resmi Berlakukan Siaga Darurat Kekeringan
Bakesbangpol Sumenep Apresiasi Aksi Sosial PPI dan BAZNAS di Desa Ellak Daya
Danyonif TP 931/KJ Hadiri Peresmian Jembatan Perintis Garuda di Ambunten, Perkuat Sinergi TNI dan Masyarakat
89 Hari Rampung, Danrem Bhaskara Jaya Resmikan Jembatan Perintis Garuda di Ambunten Sumenep
Program Nasi Bungturat KBS Sumenep, Wujud Kepedulian Lewat Jum’at Berkah
Pertemuan Rutin DWP Bappeda Sumenep Disulap Jadi Ajang Pengembangan Kreativitas Anggota

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:30 WIB

Haflatul Imtihan Annuqayah 2026 Perkuat Sanad Keilmuan Melalui Bedah Buku The Qur’anything

Jumat, 3 Juli 2026 - 23:59 WIB

Kurve di Mako Polres Sumenep, Bangun Semangat Gotong Royong dan Kepedulian Lingkungan

Jumat, 3 Juli 2026 - 22:26 WIB

Pilkades Sumenep 2027: Achmad Farid Azzyadi Jadi Figur yang Mulai Diperhitungkan di Payudan Dundang

Jumat, 3 Juli 2026 - 21:56 WIB

Hadapi Musim Kemarau 2026, Bupati Achmad Fauzi Resmi Berlakukan Siaga Darurat Kekeringan

Jumat, 3 Juli 2026 - 20:34 WIB

Bakesbangpol Sumenep Apresiasi Aksi Sosial PPI dan BAZNAS di Desa Ellak Daya

Berita Terbaru