JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Tidak semua orang memiliki perjalanan yang mulus untuk mencapai cita-cita. Sebagian harus melewati berbagai tantangan, jatuh bangun, hingga berulang kali membuktikan kemampuan diri sebelum akhirnya berada di titik yang diimpikan. Hal itulah yang tergambar dari perjalanan hidup Annisa Syakina, S.I.Kom., M.I.Kom.
Perempuan kelahiran Jakarta, 10 November 1996 ini berhasil membuktikan bahwa semangat belajar dan kemauan untuk terus berkembang mampu membuka banyak pintu kesempatan. Kini, Annisa dikenal sebagai akademisi muda yang aktif mengajar, meneliti, serta berkontribusi dalam pengembangan literasi digital dan ilmu komunikasi.
Namun, pencapaian tersebut tidak diraih dalam waktu singkat. Sejak duduk di bangku kuliah Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Annisa sudah menunjukkan minat besar terhadap dunia komunikasi dan teknologi informasi. Baginya, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga proses untuk membangun kapasitas diri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama menjadi mahasiswa, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan, seminar, dan kegiatan pengembangan kompetensi. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan keterampilan yang dapat mendukung perjalanan kariernya di masa depan.
Ketertarikan terhadap teknologi informasi membawanya mengikuti berbagai program yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Salah satunya adalah Bimbingan Teknis Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi Kalangan Disabilitas pada 2016.
Dari pengalaman tersebut, Annisa semakin memahami pentingnya akses teknologi yang inklusif dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebelum menyandang status dosen, Annisa lebih dulu menorehkan sejumlah prestasi yang membanggakan.
Pada 2015, ia berhasil meraih Juara II Kompetisi Keterampilan Teknologi Informasi Remaja Disabilitas Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
Tak berhenti di tingkat nasional, Annisa juga memperoleh Achievement Award dalam ajang eLife Map Global IT for Youth with Disabilities yang diselenggarakan oleh Rehabilitation International.
Prestasi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kemampuan dan kerja keras mampu membawa seseorang melampaui berbagai batasan yang ada.
Bagi Annisa, penghargaan bukanlah tujuan utama. Pengalaman yang diperoleh selama berproses justru menjadi bekal paling berharga untuk terus berkembang.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2019, Annisa memutuskan melanjutkan studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Dr. Soetomo.
Keputusan itu diambil karena ia menyadari bahwa dunia pendidikan membutuhkan akademisi yang memiliki kompetensi akademik sekaligus pemahaman praktis yang kuat.
Selama menjalani studi magister, Annisa semakin aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah. Salah satu pengalaman penting yang ia peroleh adalah saat menjadi pemakalah pada Seminar Nasional Cendekiawan ke-5 yang diselenggarakan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Forum tersebut menjadi ruang baginya untuk berdiskusi, bertukar gagasan, sekaligus memperluas jaringan akademik dengan para peneliti dan akademisi dari berbagai daerah.
Usai menyelesaikan pendidikan magister pada 2021, Annisa memantapkan langkah untuk berkarier di dunia pendidikan tinggi.
Menurutnya, profesi dosen bukan hanya tentang menyampaikan materi kuliah. Lebih dari itu, seorang dosen memiliki tanggung jawab untuk membantu mahasiswa menemukan potensi terbaik yang mereka miliki.
Karena itu, dalam proses pembelajaran, Annisa berusaha menciptakan suasana yang terbuka dan mendorong mahasiswa untuk aktif berpikir kritis.
Ia memahami bahwa setiap mahasiswa memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda. Pendekatan tersebut membuat proses belajar tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan pengembangan diri.
Selain mengajar, Annisa juga aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah.
Salah satu kontribusinya terlihat saat menjadi bagian dari penulis buku Komunikasi Dalam Berbagai Sudut Pandang pada 2023.
Dalam buku tersebut, ia membahas komunikasi kelompok melalui grup WhatsApp komunitas disabilitas selama masa pandemi Covid-19. Kajian itu menunjukkan bagaimana teknologi mampu menjadi jembatan komunikasi ketika interaksi sosial mengalami keterbatasan.
Topik tersebut sekaligus mencerminkan kepedulian Annisa terhadap isu komunikasi inklusif dan pemanfaatan teknologi untuk pemberdayaan masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat, Annisa meyakini bahwa seorang dosen harus terus belajar dan beradaptasi.
Baginya, proses belajar tidak berhenti ketika seseorang berhasil memperoleh gelar atau pekerjaan yang diimpikan. Justru pada titik itulah proses pengembangan diri harus terus dilakukan.
Prinsip tersebut yang hingga kini terus dipegangnya dalam menjalankan profesi sebagai dosen.
Perjalanan Annisa Syakina menjadi pengingat bahwa kesuksesan bukan hanya soal pencapaian pribadi, melainkan juga tentang bagaimana seseorang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Melalui dunia pendidikan, penelitian, dan literasi digital, ia terus berupaya menghadirkan kontribusi nyata sekaligus menginspirasi generasi muda agar tidak pernah berhenti belajar dan berani mengejar impian mereka.
Sebab pada akhirnya, setiap keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang, melainkan tantangan yang bisa diubah menjadi kekuatan. (REDJAVA****)
Penulis : Ria Natalia, 18 Juni 2026









