JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Langkah serius membentengi generasi muda dari ancaman narkotika terus digencarkan. BNNK Sumenep menuntaskan rangkaian Pelatihan Pendidik Sebaya Anti Narkotika melalui sesi ketiga dalam program nasional ANANDA BERSINAR (Agenda Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak dan Ketahanan Bangsa).
Bukan sekadar pelatihan biasa, sesi penutup ini menjadi momentum penting dalam membentuk karakter pelajar agar mampu mengenali, mengelola, dan mengoptimalkan potensi diri di tengah derasnya tantangan zaman.
Mengusung tema “Reaching Out/Pencapaian Diri”, kegiatan ini menegaskan bahwa masa depan generasi muda ditentukan oleh keberanian mereka melangkah dan bertindak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bertempat di KPRI Serba Usaha Sumenep, pelatihan diikuti oleh perwakilan siswa dari SMPN 1, SMPN 3, SMPN 5, SMPN 6 Sumenep, serta SMPIT Al-Hidayah Sumenep. Sejak awal hingga akhir, suasana pelatihan berlangsung dinamis, interaktif, dan penuh antusiasme, Kamis (09/04/2026).
Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis, mengelola emosi, serta mengambil keputusan secara tepat di tengah tekanan lingkungan sebuah keterampilan hidup yang menjadi benteng utama dalam menjauhi penyalahgunaan narkotika.
Materi pembuka bertajuk “Aku Siap Beraksi” disampaikan oleh Franko Nanda Artanto. Ia menekankan pentingnya keberanian dalam menghadapi tantangan sebagai jalan untuk mencapai tujuan hidup.
“Remaja tidak boleh ragu untuk melangkah. Potensi diri hanya akan berkembang jika berani mencoba, menghadapi tantangan, dan memanfaatkan setiap peluang yang ada,” tegas Franko Nanda Artanto.
Setelah sesi pemaparan, peserta mengikuti post test yang dipandu oleh Latiful Minani sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap pemahaman mereka.
“Evaluasi ini menjadi tolak ukur sejauh mana peserta siap menerapkan ilmu yang diperoleh, bukan hanya memahami secara teori, tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari,” jelas Latiful Minani.
Sebagai penutup, Suyanto membekali peserta dengan lembar rencana aksi pengimbasan. Langkah ini menjadi strategi konkret agar ilmu yang didapat tidak berhenti di ruang pelatihan, melainkan terus bergulir di lingkungan sekolah masing-masing.
“Kami ingin peserta menjadi motor penggerak. Mereka harus mampu menularkan semangat positif dan menjadi contoh nyata dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari narkotika,” ungkap Suyanto.
Melalui pelatihan ini, BNNK Sumenep tidak hanya mencetak peserta yang paham bahaya narkotika, tetapi juga membentuk generasi muda yang tangguh, berdaya, dan siap menjadi agen perubahan.
Di tengah meningkatnya tantangan sosial, langkah ini menjadi investasi penting dalam menjaga masa depan bangsa dimulai dari keberanian seorang remaja untuk mengenal dirinya, mengasah potensinya, dan berani berkata tidak pada narkotika. (REDJAVA****)








