(Refleksi Hari Guru Nasional Tahun 2025)
JAVANETWORK.CO.ID.ARTIKEL – Setiap kali Hari Guru Nasional tiba, saya selalu teringat pesan Ki Hajar Dewantara mantra pendidikan Indonesia yang tak pernah lapuk ditelan zaman: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Kalimat sederhana yang sesungguhnya menyimpan cita-cita besar sekaligus beban moral yang tidak ringan. Guru diminta menjadi teladan, penggerak, dan penuntun. Namun di balik itu, dunia pendidikan hari ini menuntut kemampuan adaptasi yang jauh lebih tinggi daripada generasi guru sebelumnya.
Kita hidup pada zaman ketika perubahan datang bak hujan deras yang tak sempat memberi jeda untuk berteduh. Teknologi bergerak cepat, kurikulum terus berbenah, ekspektasi masyarakat meluas, sementara waktu terasa semakin sempit. William Butler Yeats mengingatkan, “Education is not the filling of a pail, but the lighting of a fire.” Tantangan kita hari ini: menyalakan api tersebut di tengah pusaran perubahan yang berlaku tanpa kompromi. Maka guru pun dituntut untuk bergerak bersama perubahan itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
John Dewey pernah menyatakan, “If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow.” Pesan itu tidak hanya menegur, tetapi mengingatkan bahwa guru tidak boleh berhenti belajar. Pengembangan diri bukan lagi sekadar opsi, tetapi kewajiban moral sekaligus profesional. Guru masa kini dituntut menjadi pembelajar sejati yang tidak takut mencoba, tidak malu bertanya, tidak lelah memperbaiki diri.
Belajar dalam konteks guru bukan hanya mengikuti pelatihan formal. Ia tumbuh dari membaca, berbagi praktik baik, bergabung dalam komunitas belajar, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai pendamping kerja sehari-hari. Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan guru memang wajar, tetapi tidak sepenuhnya tepat. AI dapat membantu membuat soal, menyusun RPP, merancang rubrik, hingga menganalisis data pembelajaran. Namun AI tidak memiliki empati, intuisi, kehangatan, dan sentuhan manusia yang hanya dimiliki seorang guru.
Maria Montessori mengingatkan, “Education is a natural process carried out by the child… by experiences.” Pendidikan adalah pengalaman dan pengalaman itu butuh manusia. AI hanya alat; guru tetap pusat nilai kemanusiaan dalam pembelajaran.
Daripada memandang AI sebagai ancaman, mengapa tidak menjadikannya sahabat kerja? Alat yang membuat guru bekerja lebih cepat dan rapi, sehingga waktu yang tersisa dapat digunakan untuk hal paling berharga dalam pendidikan: menyapa murid.
Seperti diingatkan Ken Robinson, peran pendidikan bukan menyiapkan murid untuk dunia masa lalu, tetapi masa depan yang bahkan belum pernah kita lihat. Guru yang memanfaatkan AI justru sedang menunjukkan bagaimana adaptasi bekerja di dunia nyata sebuah teladan bahwa belajar adalah proses yang tidak pernah selesai.
Nelson Mandela menyatakan, “Education is the most powerful weapon…” Senjata itu hanya dapat digunakan oleh guru yang terus ditempa oleh pembelajaran. Dan tempaan itu harus dimulai dari dirinya sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk digital dan tuntutan administrasi, ada esensi yang tidak boleh hilang: guru adalah penenun masa depan. UNESCO menyebut empat pilar pendidikan learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together. Dan pilar-pilar itu hanya bisa dihidupkan melalui peran guru.
Mengajar adalah pekerjaan jangka panjang. Hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Namun bertahun-tahun kemudian, seorang murid mungkin datang sambil berkata, “Terima kasih, Guru. Karena Ibu/Bapak, saya berani bermimpi.” Pada saat itulah seluruh lelah guru berubah menjadi cahaya.
Paulo Freire benar ketika menyebut, “Education does not change the world. Education changes people. People change the world.” Guru, dengan demikian, adalah agen perubahan paling strategis. Namun menjadi agen perubahan berarti siap menghadapi tantangan: mengajar dengan sabar meski kondisi kelas tak ideal, beradaptasi dengan kurikulum yang terus berganti, dan tetap profesional meski beban administrasi tak kunjung berkurang.
Guru adalah pemimpin. Meminjam kata John C. Maxwell, “A leader knows the way, goes the way, and shows the way.” Guru adalah pemimpin di ruang-ruang kecil yang kelak melahirkan perubahan besar.
Hari Guru Nasional bukan sekadar seremoni. Ia adalah ruang refleksi. Apakah kita telah menjadi guru yang terus belajar? Sudahkah kita membuka diri terhadap teknologi baru, termasuk AI? Sudahkah kita memberi energi positif kepada murid? Sudahkah kita menjadi teladan, bukan hanya pengajar?
Guru hebat bukan guru yang sempurna. Guru hebat adalah guru yang berani bertumbuh yang terus belajar, terus melompat keluar dari zona nyaman, dan terus memelihara api pengabdian di dalam dirinya.
Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Di era ketika teknologi merambah segala aspek kehidupan, justru semakin besar kebutuhan akan guru yang mampu menjaga kemanusiaan tetap berada di pusat pendidikan.
Pada akhirnya, pendidikan membutuhkan guru yang bukan hanya bekerja, tetapi menyala. Guru yang tidak hanya mengajar, tetapi menginspirasi. Guru yang tidak sekadar memenuhi tuntutan kurikulum, tetapi menghadirkan harapan.
Teknologi boleh semakin pintar, tetapi selalu ada ruang yang hanya bisa diisi oleh hati manusia ruang itu adalah milik Ibu/Bapak Guru.
Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Terima kasih, Guru.
Teruslah menjadi lentera yang tidak padam, di tengah segala perubahan zaman. (REDJAVA****)
Penulis : Ahmad Mufid








