JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dari sebuah desa kecil di ujung timur Pulau Madura, muncul suara serak yang tak disangka mampu menggetarkan panggung bahasa di tingkat provinsi.
Suara itu milik Sulaiman, siswa SDN Panaongan III, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, yang berhasil menorehkan prestasi gemilang sebagai Juara III Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jawa Timur 2025.
Ajang tahunan yang digelar 6–8 November 2025 di Hotel Santika Garden Premiere Surabaya itu mempertemukan tunas-tunas muda dari berbagai daerah di Jawa Timur mereka yang menjadi penjaga terakhir bahasa ibu di tengah deras arus globalisasi.
Sulaiman melangkah ke level provinsi setelah sebelumnya tampil mengesankan di tingkat Kabupaten Sumenep dan merebut Juara I. Dari sanalah, langkah kakinya menuju Surabaya dimulai, membawa harapan kecil dari pelosok Madura untuk menembus panggung besar.
Namun perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus. Salehodin HR, guru pembimbing yang mendampingi sejak awal, menceritakan bahwa sang murid sempat mengalami kendala menjelang penampilan.
“Waktu tampil, suaranya serak karena terlalu semangat berlatih. Tapi ia tidak mundur. Justru tampil lebih percaya diri. Alhamdulillah, hasilnya luar biasa,” kata Salehodin dengan nada bangga kepada media ini, Sabtu (08/11/2025)
Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, yang dikenal dengan blangkonnya yang khas, tak kuasa menyembunyikan rasa haru atas capaian anak didiknya.
“Ini bukti bahwa anak-anak dari pelosok pun mampu bersaing di tingkat Jawa Timur. Sulaiman telah menyalakan api semangat bagi teman-temannya agar terus mencintai bahasa dan budaya Madura,” ujarnya.
Agus menilai, prestasi Sulaiman bukan hanya kemenangan individu, tetapi juga simbol dari kesadaran baru bahwa bahasa ibu tak boleh sekadar jadi kenangan.
“Kami ingin sekolah ini menjadi rumah bagi generasi yang bangga menembang dalam bahasa sendiri,” imbuhnya.
Kisah Sulaiman menegaskan satu hal sederhana: prestasi besar sering lahir dari tempat yang jauh dari sorotan.
Suara yang sempat serak itu kini menjadi gema kebanggaan mengalun dari Panaongan hingga Surabaya, membawa pesan bahwa bahasa ibu masih hidup di dada anak-anak Madura. (REDJAVA****)













