JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Tembok tinggi dan jeruji besi tak mampu membatasi semangat kemerdekaan. Di Rutan Kelas IIB Sumenep, gema peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia bergema kuat, bukan dalam bentuk upacara semata, tetapi melalui lantunan nada-nada penuh ekspresi dalam lomba karaoke antar warga binaan, Kamis (7/8/2025).
Suasana di aula rutan berubah menjadi panggung hiburan. Para warga binaan, yang biasanya diselimuti rutinitas keseharian yang monoton, tampil dengan percaya diri dan antusias, menyanyikan lagu-lagu pilihan mereka dengan penghayatan yang menyentuh.
Lagu-lagu bertema cinta, harapan, dan perjuangan pun bergema di ruang tertutup itu, menciptakan suasana yang menggugah hati dan memecah kesunyian.

Setiap penampilan mendapat sorak sorai dari sesama warga binaan, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat.
Sebagian peserta tampil penuh percaya diri, lainnya justru menyentuh hati dengan suara yang mungkin tak sempurna secara teknik, tetapi jujur dalam penyampaian.
Tiga orang juri dari kalangan petugas Rutan menilai penampilan para peserta berdasarkan aspek vokal, penjiwaan, dan penampilan secara keseluruhan.
Namun lebih dari sekadar lomba, kegiatan ini menjelma menjadi panggung pengakuan bahwa di balik seragam tahanan, masih ada manusia-manusia dengan potensi, rasa, dan suara yang ingin didengar.

Kepala Rutan Kelas IIB Sumenep, Heri Sutriadi, mengatakan bahwa lomba ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan memperingati hari kemerdekaan, sekaligus bentuk pemenuhan hak-hak rekreasional warga binaan.
“Kami ingin memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengekspresikan diri. Lomba karaoke ini bukan sekadar hiburan, tetapi terapi jiwa dan medium ekspresi. Di tengah keterbatasan, mereka tetap layak merasakan suasana kemerdekaan,” ujarnya.
Menurut Heri, kegiatan semacam ini juga menjadi bagian dari pendekatan pembinaan yang lebih manusiawi. Seni, katanya, adalah jembatan yang bisa menyentuh batin terdalam manusia bahkan mereka yang tengah menjalani masa pidana.
Antusiasme para peserta pun menjadi bukti nyata bahwa kegiatan seperti ini mampu menghidupkan kembali rasa percaya diri dan semangat hidup.

“Bagi sebagian besar dari mereka, momen ini mungkin menjadi satu-satunya kesempatan dalam setahun untuk menunjukkan siapa mereka di luar status sebagai narapidana,” jelasnya.
Tak hanya mempererat solidaritas antarwarga binaan, lomba karaoke juga menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan tidak boleh dibatasi oleh keadaan.
“Bahwa hak untuk merasa merdeka dalam hati dan jiwa adalah milik setiap warga negara, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan,” pungkas Heri Sutriadi. (REDJAVA****)












