JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Upaya mencetak generasi Qur’ani sejak usia dini terus digelorakan Forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam Taman Kanak-Kanak (FKG PAI TK) Kabupaten Sumenep. Bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Kamis (31/7), FKG PAI TK menggelar Pelatihan Tuntas Baca Qur’an (TBQ) bekerja sama dengan Majelis Hufadzul Qur’an (MHQ) Sumenep.
Pelatihan ini bukan sekadar rutinitas peningkatan kapasitas, melainkan bagian dari gerakan sistematis membekali guru-guru PAI TK dengan kompetensi dasar yang esensial: kemampuan mengajarkan Al-Qur’an secara benar, menyenangkan, dan sesuai tahapan psikologis anak.
Ketua FKG PAI TK Kabupaten Sumenep, Sri Rahayu Dwiwidiyawati, menekankan urgensi TBQ dalam konteks pendidikan anak usia dini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Guru PAI adalah aktor utama dalam membentuk karakter religius anak sejak masa keemasan. Karena itu, kemampuan mereka membaca dan mengajarkan Al-Qur’an tidak boleh setengah-setengah. Harus tuntas,” tegasnya di hadapan puluhan peserta.
Dalam sesi pelatihan, para guru mendapatkan materi mendalam seputar metode pengajaran Al-Qur’an untuk anak-anak, teknik tahsin bacaan, hingga strategi menghadapi tantangan di ruang kelas.
Seluruh materi disampaikan oleh Ust. Mistari, narasumber dari MHQ yang telah berpengalaman di bidang pembinaan guru dan santri Al-Qur’an.
“Pengajaran Al-Qur’an pada anak-anak tidak cukup hanya dengan mengeja. Butuh pendekatan yang lembut, menyenangkan, dan konsisten. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator cinta Qur’an sangat menentukan,” ujar Ust. Mistari dalam paparannya.
Suasana pelatihan berlangsung antusias. Para peserta yang berasal dari berbagai lembaga TK di Sumenep tak hanya menyimak, tetapi juga aktif berdiskusi dan praktik langsung.
Mereka berharap pelatihan seperti ini bisa menjadi agenda rutin yang ditopang dukungan kebijakan dari Kemenag maupun pemerintah daerah.
Melalui sinergi FKG PAI TK dan MHQ Sumenep, pelatihan TBQ menjadi bukti konkret bahwa komitmen mencetak generasi Qur’ani tak cukup lewat seruan, tapi harus dimulai dari penguatan kualitas guru.
Dengan demikian, pendidikan agama Islam di jenjang PAUD tak hanya hidup dalam kurikulum, tetapi juga meresap dalam praktik pembelajaran sehari-hari. (REDJAVA****)








