JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Jalanan Sumenep pagi itu tampak seperti biasa: lalu lintas perlahan mulai padat, tukang becak mulai menggayuh rezekinya, dan sejumlah warga berjalan tergesa, mengejar waktu dan harapan. Namun di sudut simpang tiga Mapolres Sumenep, ada yang berbeda.
Sekelompok anak muda berdiri di sana, membawa puluhan bungkus nasi yang dibungkus rapi. Mereka bukan pedagang. Mereka juga bukan tim promosi. Mereka adalah bagian dari Komunitas Kita Berbagi Sosial (KBS) Sumenep, yang hari itu menjalankan satu misi mulia: berbagi makanan untuk mereka yang sering kali tak terlihat oleh dunia tukang becak, pemulung, pedagang kecil, dan siapa pun yang hidup dari jalan ke jalan.
Aksi ini mereka namakan Bungturat, akronim dari Bungkus Tujuan Akhirat sebuah filosofi sederhana namun sarat makna. Satu bungkus nasi, satu langkah menuju kebaikan yang abadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami tidak mengejar popularitas. Kami hanya ingin memastikan bahwa masih ada yang peduli. Masih ada yang menyapa mereka yang kerap terabaikan. Mungkin ini kecil, tapi kami percaya, satu bungkus nasi bisa menyalakan harapan,” ujar Ahmad Zahruddin, Ketua KBS Sumenep di sela-sela kegiatan, Jum’at (30/05/2025)
Kegiatan ini bukan sekadar pembagian makanan. Di baliknya ada kerja sama, empati, dan semangat gotong royong yang tumbuh dari hati yang tulus.
Komunitas Marker’s juga turut terlibat, memperlihatkan bahwa kemanusiaan bisa menyatukan siapa saja, tanpa harus satu warna atau organisasi.

Beberapa warga penerima tampak terdiam saat menerima nasi bungkus. Ada yang mencium bungkusnya pelan, mungkin sambil membatin, “Hari ini aku tak perlu lapar.” Ada yang mengangkat tangan mendoakan, dengan suara nyaris tak terdengar, “Semoga berkah, nak…”
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan individualistis, gerakan seperti ini terasa seperti pelukan hangat bagi mereka yang dingin oleh kerasnya hidup.
Dan bagi relawan, Bungturat bukan sekadar kegiatan, tetapi cermin kecil yang memperlihatkan bahwa hidup tak hanya soal diri sendiri.
Ahmad Zahruddin menyampaikan bahwa Bungturat adalah program rutin yang akan terus dilanjutkan. Tak ada sponsor besar, tak ada panggung megah. Hanya niat baik, tangan-tangan sukarela, dan hati yang peduli.
“Kami percaya bahwa kebaikan tidak harus menunggu momen tertentu. Justru di hari-hari biasa, kami ingin menjadikannya luar biasa dengan kepedulian. Kami sangat terbuka bagi siapa pun yang ingin ikut ambil bagian. Entah itu dengan menyumbang makanan, uang, atau bahkan hanya ikut membagikan. Semua akan jadi bagian dari ladang amal,” jelasnya.
Ia berharap gerakan ini bisa menginspirasi komunitas lain untuk ikut bergerak, untuk menjadikan empati sebagai budaya, dan berbagi sebagai kebiasaan.
“Semoga satu bungkus nasi ini tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga menguatkan hati, dan mengingatkan kita semua bahwa di balik kehidupan yang kita jalani, ada tanggung jawab sosial yang tak boleh dilupakan,” pungkas Zahruddin. (REDJAVA****)









