JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Musim kemarau yang mestinya membawa langit cerah dan udara kering, justru diwarnai genangan air dan hujan deras di Kabupaten Sumenep.
Ironi cuaca ini menjadi pemandangan tak biasa pada pertengahan Mei 2025, ketika banjir melumpuhkan sejumlah titik di kawasan kota.
Air merangsek ke pemukiman, menutup jalanan, dan memaksa aktivitas warga melambat.
Yang mengejutkan, kejadian ini tak termasuk dalam daftar wilayah rawan bencana versi BMKG Jawa Timur. Namun alam berkata lain: air bah tetap datang, tanpa aba-aba.
Kepala BMKG Kalianget Sumenep, Ari Widjajanto, menyebut banjir kali ini dipicu oleh kombinasi langka antara curah hujan tinggi dan air laut yang sedang pasang.
“Curah hujan memang deras, tapi yang memperparah situasi adalah air laut yang juga sedang naik. Ketika keduanya terjadi bersamaan, maka tak ada ruang bagi air untuk mengalir. Akibatnya, banjir pun tak terhindarkan,” terang Ari, Sabtu (17/5/2025).
Fenomena ini, lanjut Ari, tak bisa dilepaskan dari dinamika cuaca global yang kini kian tak menentu.
Indonesia sebenarnya sudah memasuki masa peralihan musim dari hujan ke kemarau. Namun proses transisi itu tidak berjalan mulus.
“Angin timuran yang menjadi penanda musim kemarau seharusnya sudah mulai bertiup. Tapi sampai sekarang belum efektif karena badai di selatan Australia yang biasanya memicu angin tersebut belum terbentuk. Yang ada hanya bibit-bibit badai, bukan badai utuh,” jelasnya.
Akibatnya, hujan masih terjadi di berbagai wilayah, termasuk Sumenep.
Kondisi inilah yang dikenal sebagai kemarau basah ketika musim kering tetap dihiasi curah hujan dalam intensitas tertentu.
“Secara kasat mata memang tampak seperti musim hujan. Padahal secara kalender kita sudah masuk kemarau. Ini yang sering membuat masyarakat lengah, padahal potensi bencana seperti banjir dan longsor masih mengintai,” tambahnya.
BMKG mengingatkan bahwa kemarau basah membawa risiko tersendiri, terutama di wilayah dengan drainase buruk atau topografi yang rawan longsor.
Namun secara umum, potensi petir dan angin puting beliung di Sumenep diperkirakan tetap rendah.
Fenomena ini menjadi isyarat bahwa perubahan iklim bukan sekadar wacana akademik, melainkan kenyataan yang sudah mengetuk pintu rumah warga.
Banjir di musim kemarau hanyalah salah satu dari banyak anomali yang akan terus terjadi jika manusia tidak segera beradaptasi.
“Masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan cuaca, tidak hanya mengandalkan musim sebagai patokan. Karena saat ini, cuaca tidak lagi bicara dengan pola lama,” pungkas Ari. (REDJAVA****)












